Bantul (ANTARA News) - Kerajinan gerabah tempel kulit bambu yang dikembangkan Sunardi (31), warga Dusun Neco, Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mampu menembus pasar Eropa.

"Gerabah-gerabah ini banyak di pesan di sejumlah negara di Eropa dan omset perbulan mencapai rata-rata Rp100 juta," kata Sunardi, Minggu.

Menurut dia, usaha yang dirintisnya ini berawal ketika dirinya diberhentikan dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan kerajinan ekspor pada 2002.

"Saat itu dengan modal Rp80.000 saya mencoba untuk membuat sesuatu yang memiliki nilai dengan pengalaman yang saya miliki saat bekerja di perusahaan kerajinan," katanya.

Ia mengatakan, keseriusannya dalam menggeluti kerajinan gerabah tempel tersebut saat ini mulai menampakkan hasil dengan pangsa pasar ekspor ke Eropa dan Australia serta pasar dalam negeri.

"Saat itu dengan dibantu dua tetangga, saya mencoba membuat membuat contoh kerajinan gerabah tempel dengan memanfaat limbah kulit bambu yang melimpah di sini karena sebagian besar penduduk Dusun Neco merupakan perajin `kepang` (dinding bambu)," katanya.

Bekas kulit bambu yang tidak dipakai untuk membuat "kepang" dimanfaatkan untuk membuat gerabah tempel.

"Kulit bambu bekas dengan ketebalan 0,5 milimeter itu setiap ikat dengan ukuran panjang 50 hingga 60 centimeter saya peroleh dengan harga Rp1.500 hingga Rp2.000 perikat," katanya.

Gerabah yang akan ditempeli dengan kulit bambu itu dibeli langsung dari perajin gerabah di Kasongan, Bantul, dengan harga setiap gerabah mencapai Rp30.000 hingga Rp40.000 tergantung pada besar kecilnya ukuran gerabah.

"Proses pembuatan gerabah tempel sendiri cukup mudah yaitu mengolesi gerabah dengan lem kayu, selanjutnya kulit bambu yang telah siap mulai ditempel satu per satu dengan rapi," katanya.

Setelah seluruh gerabah ditempel dengan kulit bambu, selanjutnya dikeringkan dan setelah kering dicuci dan dijemur agar kering kembali.

"Gerabah kemudian dicat sesuai dengan permintaan dari pembeli. Ada sepuluh macam cat yang biasanya diminta para pembeli, kami tinggal mengecat gerabah yang telah ditempeli kulit bambu sesuai permintaan," katanya.

Sunardi mengatakan, pemasaran kerajinan gerabah masih menggantungkan "perantara" sehingga keuntungan yang diperoleh tidak cukup besar, hanya dalam kisaran 20 persen dari harga yang diterima "perantara".

Ia mencontohkan, untuk satu kerajinan gerabah tempel senilai Rp150.000 dengan biaya produksi senilai Rp100.000, keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp30.000 sedangkan sisanya yaitu Rp20.000 untuk perantara.

"Dalam satu bulan kami dapat mengirim gerabah tempel antara 500 unit hingga 1.000 unit dengan tenaga yang mengerjakan sekitar 30 warga sekitar," katanya.(V001/A038)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010