Artikel

Tips 3W Doni Monardo untuk hindari COVID-19

Oleh Virna P Setyorini

Tips 3W Doni Monardo untuk hindari COVID-19

Tangkapan layar - Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo. ANTARA/Muhammad Zulfikar/am.

Jakarta (ANTARA) - Wajib iman, wajib aman, wajib imun atau Tiga Wajib (3W) menjadi tips dari Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo untuk masyarakat Indonesia sebagai ikhtiar agar terhindar dari penularan COVID-19.

Berawal dari gambar Ikhtiar Melawan COVID-19 dengan narasi iman, aman, imun untuk menangkal pandemi yang diperoleh dari koleganya di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Doni yang juga merupakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merasa sreg lantas meneruskan pesan tersebut kepada stafnya, dan meminta agar melengkapinya dengan catatan yang lebih universal.

Iman yang awalnya bermakna menjalankan syariat ibadah, doa, serta dzikir ke haribaan Allah SWT agar terlindung dari virus corona baru, diubah lebih universal menjadi berdoa dan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Jika aman pada prinsipnya sama, yakni menjalankan protokol kesehatan dengan baik dengan memakai masker, menjaga jarak serta menghindari kerumunan dan mencuci tangan dengan sabun, maka untuk imun Doni menambahkan hati senang sebagai salah satu cara meningkatkan imunitas.

Selain makanan bernutrisi, istirahat cukup, berolahraga dan tidak panik atau stres, yang tak kalah penting adalah hati yang senang, kata dia menjelaskan perihal imun tadi.

“Ingat, jurus iman-aman-imun itu ibarat 'satu tarikan nafas'. Tidak bisa hanya satu yang dilaksanakan, dua yang lain tidak. Tidak bisa juga, dua dilaksanakan, yang satu tidak. Tiga-tiganya harus dilakukan bersama-sama. Dan prinsip utama yang harus dicamkan, yakni 'dokter terbaik adalah diri sendiri',” ujar perwira tinggi TNI-AD yang sejak 9 Januari 2019 menjadi Kepala BNPB tersebut.


"Nutrisi hati"

Cerita berikutnya berawal dari vlog kritis dari dr Tirta Mandira Hudhi yang disampaikan Buya Syafei Maarif kepadanya melalui aplikasi pesan pada 1 Oktober 2020. Sekalipun kadang berkata keras, meledak-ledak, bahkan sesekali dianggap nyinyir, namun menurut Doni, dalam beberapa hal, apa yang menjadi pendapat dokter muda tersebut ada benarnya.

Bahwa protokol kesehatan itu penting, sama pentingnya menjaga agar jangan sampai perut lapar karena tidak bisa makan. Pendeknya, bagi-bagi masker wajib dibarengi aksi bagi-bagi makanan kepada mereka yang tidak mampu.

Hanya dengan perut kenyang oleh makanan bernutrisi, imun otomatis akan terjaga. Persis sama dengan kasus COVID-19 yang menimpa pesepakbola profesional dunia asal Brasil dan Swedia, Neymar Jr dan Ibrahimovic, yang sama-sama terpapar corona, namun sembuh hanya dalam waktu empat hari.

Penjelasannya sederhana. Keduanya adalah atlet kelas dunia yang secara finansial tidak kekurangan sehingga hidupnya tenang dan senang, sementara secara fisik sangat sehat karena sebagai atlet profesional harus menjaganya dengan rutin berolahraga, plus klub-klub sepakbola yang menaungi mereka tentu sangat memperhatikan nutrisi para atletnya.

Dengan kata lain, kondisi Neymar dan Ibra sangat sehat dan memiliki imunitas tinggi terhadap masuknya virus. "Jadi jika kita cukup makan, berusaha happy serta melaksanakan iman-aman-imun, niscaya corona jauh," ujar Doni yang menjadi Komandan Ke-20 Pasukan Pengamanan Presiden itu.

Jauh sebelum dr Tirta mengunggah vlog seputar pentingnya “perut” diperhatikan, Doni sudah melakukannya di Natuna pada awal Februari 2020 saat mengarantina tak kurang dari 238 WNI yang baru pulang dari Wuhan, China. Mereka tidak hanya dibanjiri dengan nutrisi, tetapi juga "nutrisi hati" berupa hiburan dengan diberikan fasilitas karaoke dan didatangkan organ tunggal supaya mereka bisa bernyanyi, tidak ketinggalan papan catur dan aneka permainan lainnya sebagai teman "pembunuh" waktu.

Para prajurit dari Kogabwilhan I yang mendampingi mereka selama proses karantina juga mengajak lari-lari serta olahraga pagi. Pendek kata, semua WNI yang dikarantina tercukupi asupan nutrisi perut sekaligus “nutrisi hati" sehingga senang.

Syahdan, pada 15 Februari 2020, semua dinyatakan sehat, tidak satu pun terpapar corona dan dipulangkan ke rumah masing-masing dengan bekal surat keterangan bebas COVID-19, serta buah tangan berupa ransel atau backpack serta uang transport Rp1 juta per orang.

Doni juga menggagas pengiriman ikan segar dari Ambon untuk Secapa TNI serta secara rutin mengirimkan ikan-ikan segar tersebut untuk dikonsumsi pasien yang menghuni Wisma Atlet Kemayoran. Bahkan pada bulan Juli 2020, ada tiga ton tuna mendarat di Bandara Juanda Surabaya guna memenuhi nutrisi sejumlah santri di sebuah pesantren di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.


Jurus 3W

Setelah mendapat formulasi iman, aman, imun yang harus dijalankan secara simultan dalam "satu tarikan nafas" tadi, peneliti Indo Barometer Muhammad Qodari mengusulkan agar ketiganya menjadi wajib dijalankan sebagai ikhtiar untuk menangkal virus corona jenis baru itu.

Menurut dia, memakai masker saja tidak cukup disampaikan sebagai sesuatu yang penting, namun harus ditambahkan kata wajib, sehingga masyarakat wajib memakai masker. Demikian juga wajib menjaga jarak dan wajib mencuci tangan.

Sehingga imbauan 3M yang sebelumnya meminta masyarakat untuk memakai masker dengan benar, menjaga jarak lebih dari 1,5 meter dengan lainnya, dan mencuci tangan dengan sabun dengan rutin berubah menjadi 3W atau Tiga Wajib. Ini agar juga tidak tertukar dengan kampanye memerangi demam berdarah dengue (DBD), yakni menimbun, menutup dan menguras tempat air.

Dus, semua 3M, tidak akan berfungsi maksimal kalau perut kosong. Katakan pula, semua syarat tadi terpenuhi, tidak akan produktif kalau kehilangan kegembiraan, stres, kurang olahraga dan rajin begadang, karenanya urusan itu pun juga perlu ditambahkan kata wajib.

Contoh paling sederhana, kaum berada yang mampu mencukupi nutrisinya dengan makan steak, salad, dan lain-lain tetap saja rentan, manakala dalam tata pergaulan mengabaikan protokol kesehatan. Sejumlah negara maju dan berpenghasilan ekonomi papan atas sehingga untuk persoalan nutrisi relatif minim, namun kebiasaan hang-out, bergerombol dan mengabaikan protokol kesehatan membuat kasus penularan COVID-19 menjadi tinggi.

Sementara klaster perkantoran di Jakarta, penjelasan sederhananya terjadi karena banyak kaum pekerja berangkat subuh pulang malam, "terjebak" dalam ruangan berpenyejuk udara, serta stres dengan pekerjaan. Makan terkadang hanya memesan junk food secara daring, pulang larut malam dan sudah letih, terkadang masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor atau masalah lain di rumah, tidak sempat olahraga.

Tentu saja, menurut dia, tipikal seperti itu rentan terpapar virus, apalagi yang berangkat dan pulang kantor mayoritas menggunakan kendaraan umum. Sangat berbeda dengan diri Doni Monardo yang berlatarbelakang prajurit Kopassus yang menerapkan hidup disiplin, termasuk dalam hal olahraga yang dipraktikkan sebagai sebuah kebiasaan.

"Mematuhi protokol kesehatan bukan berarti ada jaminan bebas dari serangan COVID-19, apalagi jika kita abai dan lalai. Dalam hal ini semua protokol itu menjadi keharusan, bukan lagi ajakan atau imbauan. Ia menjadi sesuatu yang wajib," kata Doni, menegaskan.

Dalam kiprah teritorial sebagai panglima, ia juga meninggalkan jejak-jejak "nutrisi" bagi masyarakat, contohnya pengembangan "emas hijau" yang merupakan segala budi daya dan pengolahan hasil kekayaan alam berupa tumbuhan dan pepohonan, serta "emas biru" sebagai budi daya dan pengolahan serta pengembangan hasil laut.

Lalu, bagi Doni, bahagia itu sederhana. Hanya dengan melakukan video call atau melihat lagi video-video pendek cucunya yang tersimpan di ponselnya, Kepala BNPB yang selalu bermalam di kantornya di Gedung BNPB dari Minggu hingga Jumat malam itu sudah cukup merasa senang dan bahagia.

Jadi mari menjalankan jurus sakti 3W dengan hati gembira. Wajib iman, wajib aman, wajib imun demi menghindari COVID-19.
#satgascovid19 #cucitangan #jagajarak #pakaimasker

Oleh Virna P Setyorini
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cegah COVID-19 dengan melakukan 3M

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar