Ribuan warga, termasuk pribumi, unjuk rasa damai di Kolombia

Ribuan warga, termasuk pribumi, unjuk rasa damai di Kolombia

Para warga berpartisipasi dalam aksi protes di Bogota, Kolombia, Jumat (11/9/2020), setelah seorang pria, yang ditahan karena melanggar aturan pembatasan jarak sosial, meninggal dunia akibat berkali-kali dikejutkan oleh pistol setrum oleh petugas, menurut pihak yang berwenang. ANTARA FOTO/REUTERS/Luisa Gonzalez/hp/cfo

Bogota (ANTARA) - Ribuan anggota serikat kerja, guru, mahasiswa, dan warga pribumi ambil bagian dalam unjuk rasa nasional di Kolombia pada Rabu (21/10).

Mereka memprotes kebijakan sosial dan ekonomi Presiden Ivan Duque, pembunuhan para aktivis hak asasi manusia, dan kekerasan polisi.

Aksi turun ke jalan itu merupakan yang terbaru dalam serangkaian protes yang mulai berlangsung akhir tahun lalu, termasuk demonstrasi pada September dalam melawan keganasan polisi yang menyebabkan 13 orang meninggal.

Pemerintah memperingatkan para pemrotes atas risiko yang meningkat penularan virus corona.

Di Kolombia, yang dikunci selama lebih dari lima bulan, jumlah kasus COVID-19 terkonfirmasi diperkirakan mencapai satu juta akhir pekan ini.

Pemrotes sedang menuntut beragam bantuan pemerintah, termasuk jaminan pendapatan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan saat pandemi, pendanaan lebih banyak bagi kesehatan dan pendidikan, serta langkah-langkah menghentikan kekerasan berdasar gender.

"Kami  meminta tak ada lagi pembantaian terhadap para pemimpin pribumi kami," kata Harold Arias, 32, salah satu dari ribuan warga pribumi yang datang di Bogota untuk memprotes di Bolivar Plaza.

"Kami tak takut virus corona. Kami takut kembali ke kampung kami tanpa berdialog dengan presiden."

Para pemimpin protes menuntut bertemu dengan Duque untuk membahas pembunuhan para aktivis, yang kematiannya oleh pemerintah dihubungkan dengan gerombolan kriminal dan pemberontak kiri.

Sekitar 10.000 warga pribumi datang ke Bogota untuk memprotes pekan ini, pada dasarnya dari Kolombia barat daya.

"Bahkan pandemi tak akan menghentikan gerakan kami," kata Hermes Pete, kepala Dewan Pribumi Regional Cauca (CRIC).

Sebagian besar pribumi pedemo mulai berangkat pulang ke kampung halaman mereka pada Rabu sore.

Wali Kota Bogota Claudia Lopez mengaitkan suasana damai hari itu pada kehadiran para warga pribumi, yang menggunakan istilah "minga" untuk merujuk pada aksi bersama.

"Kita bersyukur atas aksi bersama itu karena contoh hebat yang diberikannya pada kota ini dan pada organisasi sosial yang mengikutinya," kata Lopez di Twitter.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kolombia tak akan longgarkan karantina di ibu kota

Baca juga: Kasus positif COVID-19 meningkat di penjara Kolombia

Baca juga: Dokter di Kolombia terusir dari apartemennya karena stigma COVID-19


 

Capai 40 Derajat, Warga Kepanasan

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar