William Soeryadjaya Sang Pelopor Industri Otomotif

Jakarta (ANTARA News) - Jelang penghujung malam, ketika umat Kristiani sedang sibuk merayakan Paskah, tokoh besar dalam dunia bisnis Indonesia, William Soeryadjaya menghembuskan nafas terakhir dalam usia yang tengah beranjak ke angka 88 tahun.

"Beliau meninggal dunia, Jumat malam, sekitar pukul 22.50 WIB, setelah dirawat cukup lama," kata seorang petugas jaga RS Medistra kepada ANTARA, ketika dikonfirmasi, menjelang dini hari.

William Soeryadjaya lahir di Majalengka, 20 Desember 1922 dengan nama asli Tjia Kian Lion. Nama William Soeryadjaya yang biasa disapa Om William mulai berkibar di jagat bisnis Indonesia dengan bendera Astra Internasional Inc yang didirikannya pada tahun 1957 bersama adiknya Tjia Kian Tie, dan seorang temannya bernama Lim Peng Hong.

Dari usaha yang bergerak memasarkan minuman ringan, mengekspor hasil bumi, hingga minyak serai, Astra Internasional Inc berkembang menggeluti bisnis otomotif pada tahun 1968, dengan menjadi agen General Motor, yang memasukkan 800 truk Chevrolet ke Indonesia. Itulah cikal bakal bisnis otomotif Astra Internasional, sebelum akhirnya Astra menjadi perakit dan pemasar nomor wahid untuk otomotif asal Jepang di Indonesia.

Berkat kepiawaiannya membangun bisnis, Astra Internasional berkembang tidak hanya menjadi perakit dan pemasar otomotif, tapi juga menjadi perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan alat-alat berat. Bahkan kini berkembang ke bisnis pertambangan, infrastruktur, dan jasa keuangan.

"Visi bisnisnya sangat hebat, melihat jauh ke depan," ujar salah satu Direktur PT Astra Internasional Tbk, Johnny Darmawan. Ia mengatakan keuntungan yang diraih para pemangku kepentingan dari perusahaan itu kini merupakan bagian dari kerja keras Om William di masa lalu. Walaupun kini keluarga besar Soeryadjaya tidak lagi menjadi pemegang saham utama perusahaan yang dirintis orang tuanya itu.

Sejak Bank Summa yang dipimpin putra sulungnya Edward Soeryadjaya dinyatakan kalah kliring, lalu dilikuidasi oleh pemerintah Desember 1992, William Soeryadjaya, menjadikan dirinya sebagai jaminan pribadi untuk menyelesaikan seluruh kewajiban bank itu. Sejak itu ia melepas perusahaan yang dirintisnya itu.

Johnny yang juga menjadi Presdir PT Toyota Astra Motor (TAM) mengenang dan menilai pada masa kepemimpinan Om William itu pula tercipta mobil dengan karakter Indonesia yang menjadi cikal bakal mobil serbaguna, yaitu Toyota Kijang. Pada tahun 1977, Astra Internasional bersama Toyota Motor Corp membangun mobil dengan DNA dari Indonesia.

Dari penjualan sebesar 200 unit per bulan sejak diuncurkan pada 9 Juni 1977, penjualan Toyota Kijang terus meningkat hingga melewati angka 8.000 unit per bulan pada 2004 dan setelah mengalami perkembangan lima generasi, Toyota Kijang menjadi produk global dengan nama Innova yang kini produksinya di atas 3.000 unit per bulan baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

"Jadi dapat dikatakan Om William merupakan perintis atau pelopor yang meletakan dasar industri otomotif di Indonesia," ujar Johnny.

Kini PT Astra Internasional Tbk menjadi pemimpin pasar otomotif dengan menjadi perakit dan pemasar merek mobil dan sepeda motor terkemuka antara lain Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan Diesel dan Peugeot, serta sepeda motor Honda. Tahun lalu Grup Astra menguasai 56 persen penjualan mobil di Indonesia dan 46 persen penjualan sepeda motor di negeri ini.

Hal senada dikemukan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Riset, dan Teknologi, Rachmat Gobel. Rachmat yang ketika dihubungi sedang berada di Jepang, menilai pada masa William Soeryadjaya lah sebenarnya telah diimplementasikan mobil murah dengan harga terjangkau sesuai selera konsumen Indonesia.

"Pada era beliau konsep mobil murah sebenarnya sudah diwujudkan dalam bentuk mobil Kijang," ujar pengusaha nasional itu. Pada tahun 1970-an pemerintah memang tengah mendorong pengembangan kendaraan bermotor niaga sederhana (KBNS).

Rachmat mengaku mengenai William Soeryadjaya dari sang ayah Thayeb M Gobel. William dan Thayeb Gobel sama-sama mengembangkan bisnis dan industri melalui kerja sama dengan pihak Jepang. William Soeryadjaya membangun kerajaan otomotif, sedangkan Thayeb Gobel membangun bisnis dan industri elektronik dengan Matsushita (pemegang merek Panasonic).

"Saya mengenal Om William melalui ayah saya. Dulu saya juga banyak belajar bisnis dari beliau (William), visi industrinya luar biasa dan memiliki jangkauan ke depan," ujar Preskom PT Panasonic Gobel Indonesia itu.

Ia mengatakan William memiliki visi mengembangkan industri yang kuat yaitu membangun industri tidak hanya sekedar membangun pabrik untuk merakit produk yang komponennya berasal dari impor, namun ia juga membangun industri komponen sehingga mampu menopang industri otomotif yang dikembangkan Grup Astra.

"Dengan visinya yang jauh ke depan itu, Astra mampu menjadi perusahaan industri yang kuat dan memiliki nilai tambah. Banyak tauladan yang bisa diambil dari pemikiran Om William dalam pengembangan industri di Indonesia," ujarnya.

Di samping keberhasilannya meletakkan dasar industri otomotif di Indonesia, William Soeryadjaya juga dikenal memiliki kepemimpinan yang kuat, namun tidak otoriter.

"Kepemimpinan beliau (William Soeryadjaya) sangat kuat dan sangat baik, tidak otoriter, namun sangat kekeluargaan dan humanis," ujar Johnny Darmawan yang mengaku digembleng lewat PT Astra Internasional menjadi profesional handal, setidaknya mampu menjadikan PT Toyota Astra Motor sebagai pemimpin pasar otomotif Indonesia selama bertahun-tahun hingga kini.

Menurut dia, Om William selalu memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk berkembang sehingga mampu mencetak profesional dan pengusaha yang juga handal seperti TP Rachmat dan Budi Setiadarma yang pernah menjadi Presdir Grup Astra. "Beliau mampu mencetak konglomerat berikutnya," ujar Johnny.

Baik Johnny dan Rachmat yang merupakan generasi jauh di bawah William Soeryadjaya mengaku kehilangan sosok yang bisa menjadi panutan dalam dunia bisnis dan industri di Indonesia itu.

Sang pelopor kini telah tiada. Seperti yang dikemukan Presdir Grup Indomobil Gunadi Sindhuwinata, patah tumbuh hilang berganti. Ia berharap segera muncul sosok seperti William Soeryadjaya lainnya di tanah air yang mampu mengimplementasikan visi jauh ke depan dan menyeimbangkan kehidupan sosial dan religius sehingga menjadi tauladan dan kebanggaan negeri ini.

"Patah tumbuh hilang berganti, kita berharap akan ada sosok-sosok William Soeryadjaya di masa datang yang bisa membawa nama Indonesia ke kancah internasional," ujar Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor (AISI) itu.

Sementara itu, perkembangan terakhir dari rencana pemakaman sosok sang pelopor itu, disampaikan Kepala Humas PT Astra Internasional Tbk Yulian Warman. Dalam pesan singkatnya, ia mengatakan jenazah William Soeryadjaya yang disemayamkan di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta sejak Jumat (2/4) akan menuju pemakaman San Diego Hills, Karawang (Jawa Barat), pada pukul 9.00 WIB, Senin (5/4).

Selamat jalan Om William. Rintisan kerja kerasmu menjadi modal dasar yang mewarnai perjalanan pengembangan industri otomotif di tanah air.
(T.R016/ R009)

Oleh Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar