AS serukan pengurangan kekerasan di Afghanistan

AS serukan pengurangan kekerasan di Afghanistan

Utusan khusus Amerika Serikat untuk Afghnistan Zalmay Khalizad (tengah) berjabat tangan dengan Kepala eksekutif Afghanistan Abdullah Abdullah di Kabul, Afghanistan, Minggu (27/10/2019). (Afghan Chief Executive office/Handout via REUTERS/AWW/djo)

New York (ANTARA) - Utusan Amerika Serikat untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad pada Selasa (27/10) menyerukan pengurangan kekerasan di Afghanistan.

Khalilzad mengatakan kekerasan di Afghanistan terlalu tinggi dan bahwa Kabul serta pemberontak Taliban harus bekerja lebih keras agar kesepakatan gencatan senjata tercapai pada pembicaraan perdamaian yang sedang dijalani.  

Ia memberikan komentar itu sebelum terbang ke Doha untuk bertemu dengan kedua belah pihak.

"Saya kembali ke wilayah itu dengan perasaan kecewa meskipun ada komitmen untuk menurunkan kekerasan. Tapi itu tidak terjadi. Jendela untuk mencapai penyelesaian politik tidak akan tetap terbuka selamanya," tulisnya dalam akun Twitter miliknya.

Pembicaraan antara delegasi pemerintah dan Taliban telah berlangsung di Doha sejak pertengahan September, tetapi kemajuan lambat.

Para diplomat serta pejabat telah memperingatkan bahwa peningkatan kekerasan di dalam negeri Afghanistan  melemahkan kepercayaan.

Para pihak terkait sering kali berselisih, bahkan pada masalah yang paling mendasar.

"Kedua belah pihak harus melewati prosedur dan menuju negosiasi substantif," kata kantor Khalilzad dalam pernyataan, Selasa.

Perlu ada "kesepakatan tentang pengurangan kekerasan dalam menuju gencatan senjata permanen dan komprehensif," katanya.

Pekan lalu, Khalilzad mengatakan dia telah mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk "mengatur kembali" komitmen mereka di bawah kesepakatan penarikan pasukan dan mengurangi jumlah korban dalam konflik itu.

Kesepakatan pada Februari antara Amerika Serikat dan Taliban membuka jalan bagi pasukan asing untuk meninggalkan Afghanistan pada Mei 2021.

Penarikan pasukan itu akan dilakukan dengan imbalan jaminan kontraterorisme dari Taliban, yang setuju untuk menegosiasikan gencatan senjata permanen dan formula pembagian kekuasaan dengan Kabul.

Pembicaraan intra-Afghanistan telah menjadi semakin penting dengan latar belakang pemilihan presiden AS.

Presiden Donald Trump ingin mengakhiri perang AS yang berlangsung hampir dua dekade di Afghanistan dan menginginkan pasukan AS sudah bisa pulang pada Natal --jauh sebelum jadwal penarikan yang diusulkan.  

Sebuah kelompok bipartisan Dewan Perwakilan Rakyat AS menulis kepada menteri luar negeri dan pertahanan --Mike Pompeo dan Mark Esper.

Mereka meminta kedua menteri menjelaskan kebijakan penarikan pasukan AS sehubungan dengan sebuah cuitan Trump, yang mengatakan sang presiden ingin pasukan AS pulang sebelum Natal.

Keempat anggota dari Demokrat dan dua anggota dari Republik kelompok mencatat bahwa Khalilzad mengatakan kepada parlemen pada 22 September bahwa penarikan akhir akan didasarkan pada kondisi lapangan, menurut salinan surat 26 Oktober yang ditinjau oleh Reuters.

Khalilzad juga mengatakan bahwa Taliban belum memenuhi komitmen kesepakatan mereka pada Februari untuk memutuskan hubungan dengan Al Qaida, kata kelompok itu.

Sumber: Reuters

Baca juga: Militer AS bela serangan yang disebut Taliban melanggar perjanjian

Baca juga: Afghanistan bebaskan 400 tahanan Taliban untuk memulai perundingan

Baca juga: AS, Taliban sepakati penurunan kekerasan di Afghanistan


 

RI dukung upaya perwujudan perdamaian di Afganistan

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar