Presiden : Perguruan tinggi perlu relaksasi kurikulum agar fleksibel

Presiden : Perguruan tinggi perlu relaksasi kurikulum agar fleksibel

Presiden Joko Widodo memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, (2/11/2020). ANTARA/HO-BPMI Setpres/Kris/pri.

Perguruan tinggi yang baik adalah yang membangun ekosistem merdeka belajar
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo mengatakan perguruan tinggi perlu merelaksasi kurikulum, dari yang sebelumnya bersifat kaku menjadi lebih fleksibel, agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap bersaing.

“(Perguruan tinggi) membuka diri terhadap paradigma-paradigma baru dan cara-cara yang lebih responsif dari mono menjadi multi, dari mono menjadi inter bahkan transdisipliner,” kata Presiden saat meluncurkan secara virtual program Merdeka Belajar Episode 6 bertema Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi di Jakarta, Selasa.

Perguruan tinggi, kata Presiden, juga perlu mengubah orientasi theory building menjadi problem solving, dan impact making. Para dosen juga harus memfasilitasi para mahasiswa untuk belajar kepada siapa saja, melalui media apa saja dan dilakukan kapan saja.

“Perguruan tinggi yang baik adalah yang membangun ekosistem merdeka belajar dan memanfaatkan materi serta media yang terbuka luas. Standar normalitas baru tersebut juga harus dirumuskan dari berbagai kebijakan,” ujarnya.

Untuk menerapkan standar normalitas baru itu, kata Presiden, maka harus dirumuskan kebijakan mengenai indikator utama untuk performa (key performance indicators) dosen, kebijakan program prioritas perguruan tinggi beserta alokasi anggaran, infrastruktur, hingga berbagai standar prosedur operasional (standard operating procedure/SOP).

Baca juga: Mendikbud: Paten Merdeka Belajar dikembalikan kepada masyarakat

Baca juga: Mendikbud ajak rektor optimalkan Merdeka Belajar


"Demikian pula halnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, berbagai standar normalitas baru harus dirumuskan," imbuh Presiden.

Di tengah perkembangan digitalisasi ini, ujar Presiden, riset dan pengembangan teknologi semestinya mendapatkan prioritas utama. Beragam perkembangan teknologi digital seperti analisis big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang kehidupan.

“Inovasi-inovasi dengan memanfaatkan hal tersebut harus dikejar oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, perkembangan teknologi dan inovasi yang dilahirkan juga diharapkan dapat mendukung pengembangan kemandirian pangan, kemandirian energi, dan pengembangan kewirausahaan UMKM di berbagai sektor.

“Perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi lebih dinamis. Ciptakan terobosan, bangun iklim kompetisi untuk meningkatkan daya saing, jalin sinergi, jalin kolaborasi dengan BUMN dan industri, talent pool berbasis digital, dan model-model kerja sama lain untuk mengoptimalkan kemampuan serta mendorong prestasi yang lebih baik," jelas Presiden.

Kepala Negara meminta perguruan tinggi tidak terjebak pada pola dan rutinitas biasa. Perguruan tinggi sebagai ujung tombak lahirnya SDM yang unggul harus mendayagunakan energi dan keberanian untuk membuat perubahan.

Baca juga: FSGI kirim surat ke Presiden soal hibah merek Merdeka Belajar

Baca juga: Program Guru Penggerak sudah disampaikan ke Presiden dan DPR


Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden Jokowi melayat jenazah Artidjo Alkostar di Yogyakarta

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar