Jakarta (ANTARA News) - Indonesia baru tahun 2030 ditargetkan bebas dari malaria, di mana malaria di provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah tereliminasi.

"Tereliminasi berarti tidak ada lagi kasus penularan malaria setempat, dan kalaupun ada kasus malaria hanya kurang dari satu kasus per 1.000 penduduk," kata Staf Subdit Malaria Kementerian Kesehatan Minerva Theodora di sela Diskusi Panel Penanggulangan dan Penatalaksanaan Malaria di Jakarta, Kamis.

Untuk ibukota Jakarta dan Bali, malaria ditargetkan sudah tereliminasi pada 2010, untuk Jawa, Aceh dan Kepulauan Riau pada 2015, Sumatra, NTB, Kalimantan, dan Sulawesi pada 2020, ujarnya.

Pesimisnya target eliminasi malaria itu, menurut Eva, terkait dengan aksesibilitas dan jangkauan pelayanan yang tidak merata di daerah terpencil, terbatasnya sumber daya manusia khusus di bidang malaria, faktor geografi yang sulit dan iklim tropis yang mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk.

Pada 2010 ini, lanjut dia, juga ditargetkan ada penurunan 50 persen jumlah desa dengan malaria di atas lima kasus per 1.000 penduduk.

Hal ini terkait dengan fakta bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang masih beresiko malaria karena sampai 2007 masih terdapat 396 kabupaten (80 persen) endemis malaria.

Pada 2008 terdapat 1,62 juta kasus malaria klinis dan 2009 menjadi 1,14 juta kasus, selain itu jumlah penderita positif malaria (hasil pemeriksaan mikroskop terdapat kuman malaria) pada 2008, 266 ribu kasus dan masih 199 ribu kasus pada 2009.

Sedangkan di dunia, ujarnya, menurut data the World Malaria Report 2005, lebih dari sejuta orang meninggal setiap tahun karena malaria, di mana 80 persen kematian ada di Afrika dan 15 persen di Asia, termasuk Eropa Timur.

Sementara itu, Kepala Seksi Public Health and Malaria Control (PHMC) PT Freeport Indonesia Kerry Yarongga mengatakan, dataran rendah Papua memiliki tingkat malaria tercatat yang tertinggi di Indonesia, bahkan di beberapa kawasan Papua, tingkat prevalensi malaria melampaui 75 persen yang menunjukkan intensitas penularan tinggi sepanjang tahun.

"Ini tantangan kami dalam rangka melindungi tenaga kerja kami dan masyarakat setempat, sehingga dibentuklan PHMC pada 1992 untuk mensponsori program pengendalian malaria di kawasan kontrak karya di kabupaten Mimika," kata Kerry yang asli Papua itu.

Dengan program tersebut, ujarnya, kasus malaria telah turun terus-menerus di mana jumlah kejadian malaria turun hampir 70 persen dalam kurun waktu lima tahun pada 2005 dan tingkat penularan tahunan menurun dari 900 per 1.000 penduduk menjadi kurang dari 200 per 1.000 penduduk.
(D009/B010)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2010