Trenggalek (ANTARA News) - Empat korban tewas akibat banjir bandang yang melanda Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sudah berhasil ditemukan.

Dua korban terakhir yang sempat dinyatakan hilang, Muji (85) dan Tambir (70), jenazahnya telah dievakuasi, Kamis pagi, diantara material bangunan yang hayut terbawa arus sungai.

"Korban terakhir diketemukan sekitar pukul 07.00 WIB dengan sebagian tubuh tertimbun lumpur dan material kayu," kata salah seorang tokoh warga Desa Gembleb, Guswanto.

Ia menuturkan, proses pencarian korban sempat menemui kesulitan. Hal itu disebabkan kondisi lingkungan di sekitar lokasi bencana yang rusak parah setelah diterjang air bah dari lereng Gunung Rajekan Wesi yang berada persis di sisi timur pemukiman penduduk di Dukuh Kayu Jaran, Desa Gembleb.

Sedikitnya tujuh rumah hancur hingga rata dengan tanah, sementara tiga rumah lain rusak parah.

Ketinggian air saat bencana terjadi dilaporkan mencapai dua meter lebih. Hujan yang mengguyur kawasan perbukitan ini mulai pukul 17.00 WIB (5/5) turun begitu deras, sehingga menyebabkan sungai sabuk yang melingkari Gunung Rajekan Wesi meluap.

Pohon-pohon besar di lereng gunung tumbang dan terbawa arus banjir hingga ke pemukiman penduduk.

Banjir yang datang tiba-tiba ini membuat warga panik. Beberapa warga mengaku sempat terpana saat menyaksikan air Sungai Aabuk mulai meluap.

"Sebagian mencoba kabur, tapi terlambat," kata Saridi, salah satu korban yang rumahnya mengalami rusak ringan.

Kerugian

Kerugian akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Kabag Humas Pemkab Trenggalek, Yoso Miarso belum mengkonfirmasi berapa kerugian materiil akibat bencana tersebut.

Namun, jika melihat banyaknya rumah dan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang Rabu sore (5/5), besar kemungkinan kerugiannya mencapai miliaran rupiah.

Apalagi, kerusakan tidak hanya terjadi pada pemukiman penduduk. Pantauan ANTARA di lapangan, banjir akibat luapan air beberapa sungai utama di Trenggalek itu juga menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan warga tergenang air, sehingga mengalami gagal panen.

"Belum ada estimasi resmi. Tapi melihat banyaknya rumah yang terendam maupun infrastruktur jalan/jembatan yang rusak, bisa jadi kerugiannya sangat besar," tutur Yoso.

Data terbaru versi satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) Kabupaten Trenggalek, banjir bandang yang dilaporkan mulai terjadi antara pukul 16.00 hingga 18.30 WIB tersebut telah merendam sedikitnya 885 rumah warga.

Bencana tidak hanya terjadi di Kecamatan Pogalan dan Munjungan, tetapi juga melanda beberapa kecamatan lain seperti Kecamatan Durenan, Gandusari, Kampak, Bendungan serta Trenggalek (kota).

Total desa terendam banjir dengan demikian ada sebanyak 22 desa. Kerusakan paling parah terutama terjadi di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, serta delapan desa di Kecamatan Munjungan.

"Di Munjungan beberapa jembatan dilaporkan roboh, sehingga menyebabkan jalur Munjungan-Trenggalek serta Munjungan-Panggul putus total," papar Yoso mengungkapkan.

Pihak pemerintah daerah saat ini masih terus berupaya melakukan evakuasi. Sejumlah peralatan berat dikerahkan untuk menyingkirkan material longsoran tanah yang menutup ruas-ruas jalan di Munjungan maupun Bendungan.

Bantuan pangan berupa sembako dan obat-obatan juga telah dikirim. "Warga saat ini masih terus bahu-membahu menyingkirkan material longsoran serta membersihkan rumah warga yang roboh ataupun rusak akibat banjir sore kemarin," kata Guswanto, tokoh warga Desa Gembleb yang siang tadi terlihat ikut membantu kerja bakti di lokasi bencana.

(ANT/S026)

Pewarta: Luki Satrio
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010