Jakarta (ANTARA News) - Tingkat produktivitas pekerja Indonesia kalah dengan pekerja di China, demikian data Badan Pusat Statistik yang bekerja sama dengan Lembaga Demografi Universitas Indonesia.

"Produktivitas pekerja Indonesia sangat rendah, contoh pabrik garmen di China, seorang pekerjanya dapat menghasilkan 90 celana per hari, sedangkan di Indonesia hanya 30-40 celana saja per orang. Hanya setengahnya," kata Anggota Komisi VI DPR Lili Asdjudiredja, pada diskusi "Polemik Ketenagakerjaan dalam persepektif Sosial dan Ekonomi", di Jakarta, Selasa.

Menurut Lili, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kelangsungan industri di Indonesia.

Dia juga mengatakan pekerja di Indonesia membutuhkan pelatihan-pelatihan kerja.

"Pekerja di Indonesia membutuhkan pelatihan kerja untuk dapat bersaing dengan perusaan di China," katanya.

Lili juga mengatakan pemerintah harus berusaha untuk meningkatkan daya saing karena saat ini produk China sangat berpengaruh terhadap pasar di Indonesia.

"Hampir 50 persen produk China mengusai produk lokal Indonesia, seperti contoh pabrik sepatu Cibaduyut, 50 persen produk untuk menengah ke bawah merupakan produk dari China, pabrik keramik Plered yang dipajang pun keramik buatan China" kata Lili.

Dengan adanya perdagangan bebas Asean-China, pemerintah harus lebih cermat dalam mengawasi produk dari China dengan bea masuk kosong.

Kepala Lembaga Demografi UI DR. Sonny Herry mengatakan pemerintah jangan hanya memikirkan kuantitas tapi juga kualitas.

"Jika hanya memikirkan kuantitas kita sudah kalah karena China yang biaya tenaga kerjanya rendah, tetapi fokus pada kualitas agak produk Indonesia tidak kalah bersaing," katanya.

Sonny menjelaskan dari segi harga, produk China jauh lebih murah dari produk buatan Indonesia.

"Contohnya pensil alis buatan China selusinnya Rp12.000, sedangkan pensil alis buatan Indonesia satu buah Rp12.000, sudah jelas dari kuantitas kita sudah kalah," katanya.

Dia juga menghimbau agar masyarakat Indonesia untuk lebih memilih produk buatan Indonesia dibanding produk impor.

"Masyarakat Indonesia sendirilah yang harus lebih selektif dalam memilih produk Indonesia dan bukan produk import," kata Sonny.
(T.M-IPR/A025/P003)

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010