Australia akan selesaikan kajian vaksin COVID-19 Pfizer di awal 2021

Australia akan selesaikan kajian vaksin COVID-19 Pfizer di awal 2021

Para ilmuwan bekerja di dalam fasilitas Biotek CSL setelah CSL mengumumkan telah menyetujui untuk mengembangkan vaksin penyakit virus corona (COVID-19) yang dapat tersedia di Australia pada awal 2021, di Melbourne, Australia (7/9/2020). ANTARA/REUTERS/AAP Image/James Ross/aa. (REUTERS/STRINGER)

Kami tetap pada jadwal untuk memulai vaksinasi pertama kepada para pekerja medis dan warga lanjut usia yang ditargetkan mendapat persetujuan pada Maret
Sydney (ANTARA) - Otoritas obat-obatan Australia menyatakan pada Kamis (3/12) bahwa pihaknya menargetkan kajian vaksin COVID-19 Pfizer selesai pada Januari 2021, serta tetap sesuai jadwal untuk memulai vaksinasi pada Maret 2021.

Kepala Administrasi Kebutuhan Terapeutik Australia (TGA), John Skerritt, mengatakan bahwa ia telah meminta para staf di lembaganya untuk tidak merencanakan liburan dahulu demi mencapai target kajian ini.

"Staf saya telah diberi tahu untuk menyingkirkan dahulu baju renang dan handuk mereka, dan bekerja secepat mungkin namun juga secara mendalam," ujar Skerritt di Canberra.

Baca juga: Australia akan beli 50 juta dosis vaksin COVID-19 Novavax, Pfizer
Baca juga: Australia akan dapatkan vaksin COVID-19 AstraZeneca Januari 2021


Pada Rabu (2/12), Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui penggunaan vaksin COVID-19 dari Pfizer, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS).

Vaksin Pfizer adalah satu dari empat kandidat vaksin COVID-19 yang dibeli oleh Australia, selain vaksin dari Novanax, AstraZeneca, dan CSL yang harus terbukti berhasil dalam uji klinis.

Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt menyebut bahwa target Januari tersebut tidak akan mempercepat rencana vaksinasi yang telah dijadwalkan.

"Kami tetap pada jadwal untuk memulai vaksinasi pertama kepada para pekerja medis dan warga lanjut usia yang ditargetkan mendapat persetujuan pada Maret," kata Hunt kepada wartawan.

Pejabat urusan anggaran di parlemen Australia, Josh Frydenberg, mengatakan bahwa vaksinasi akan meningkatkan perekonomian negara hingga 34 miliar dolar Australia (sekitar Rp353,7 triliun) jika dibandingkan asumsi sebelumnya untuk tahun 2022.

Australia berada dalam posisi yang menguntungkan saat ini untuk mengurusi regulasi vaksin tanpa tekanan kasus COVID-19 yang tinggi.

Sejauh ini, Australia hanya mencatat sebanyak 27.800 kasus infeksi--angka yang relatif rendah daripada sejumlah negara lain yang masih harus berjuang dengan pertambahan kasus COVID-19 harian yang tinggi.

Rabu kemarin menandai hampir tiga pekan Australia bebas dari kasus penularan lokal.

Kasus di Australia sempat melonjak ketika negara bagian paling padat penduduk menyebut bahwa seorang pekerja di hotel, lokasi karantina masyarakat yang kembali dari luar negeri selama 14 hari, positif terpapar COVID-19.

Sumber: Reuters
​​​​​​​
Baca juga: Negara bagian Australia cabut pembatasan perbatasan
Baca juga: Calon vaksin COVID Australia hasilkan respons antibodi tahap awal

Penerjemah: Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

NSW Australia waspada serangan laba-laba mematikan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar