Rupiah awal pekan stagnan, pasar dibayangi kenaikan kasus COVID-19

Rupiah awal pekan stagnan, pasar dibayangi kenaikan kasus COVID-19

Ilustrasi: Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Rupiah masih bisa menguat di bawah Rp14.000 dipengaruhi sentimen eksternal dari prospek stimulus fiskal di AS asalkan ada tren penurunan angka COVID di dalam negeri
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ditutup stagnan masih dibayangi sentimen kenaikan kasus COVID-19 secara global dan domestik.

Rupiah ditutup stagnan di posisi Rp14.105 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan pada akhir pekan lalu Rp14.140 per dolar AS.

"Sentimen pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal dari Amerika Serikat terkait stimulus fiskal yang seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi rupiah," kata pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova di Jakarta, Senin.

Data pekerjaan AS pada akhir pekan lalu menunjukkan penggajian (payrolls) non-pertanian meningkat 245.000 bulan lalu, kenaikan terkecil sejak Mei, sebagai tanda pemulihan pekerjaan kehilangan momentum di tengah gelombang ketiga infeksi COVID-19.

Baca juga: Dolar naik saat pembicaraan Brexit terhenti, tapi catat pekan terburuk

Namun para pedagang menganggap data itu memberi tekanan pada Washington untuk mengeluarkan stimulus putaran baru guna membantu ekonomi yang dilanda Virus Corona, menjaga selera risiko secara keseluruhan tetap utuh dan membatasi kenaikan dolar AS terhadap mata uang berisiko.

"Prospek perekonomian global yang masih suram memberikan tekanan bagi rupiah," ujar Rully.

Menurut Rully, suramnya prospek perekonomian global tersebut dipicu jumlah kasus positif COVID-19 global yang masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Begitu pula dengan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia yang justru menunjukkan tren peningkatan.

Baca juga: Menkeu bebaskan pajak Rp50,95 miliar untuk 1,2 juta vaksin Sinovac

Secara global, total kasus positif COVID-19 telah mencapai 65,87 juta kasus. Sedangkan di dalam negeri kasus telah mencapai 581.550 kasus.

"Kurvanya belum terlihat akan melandai. Jadi kalau di dalam negeri isunya masih pada penanganan covid. Angka penularannya masih buruk," kata Rully.

Dalam sepekan ke depan, lanjut Rully, mata uang Garuda masih berpeluang menguat di bawah level Rp14.100 per dolar AS.

Baca juga: Vaksin datang, Gubernur BI: Perlu bangun optimisme pemulihan ekonomi

"Rupiah masih bisa menguat di bawah Rp14.000 dipengaruhi sentimen eksternal dari prospek stimulus fiskal di AS asalkan ada tren penurunan angka COVID di dalam negeri," ujar Rully.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp14.108 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.105 per dolar AS hingga Rp14.125 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp14.135 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp14.182 per dolar AS.

Baca juga: Sri Mulyani ajak masyarakat bantu pemerintah kendalikan pandemi
 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Camat dengan ternak domba beromzet ratusan juta rupiah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar