Jakarta (ANTARA News) – Kekalahan Andi Mallaranggeng oleh Anas Urbaningrum di Kongres II Partai Demokrat (PD) menunjukkan bahwa politik pencitraan tidak bisa dijadikan kekuatan untuk memenangkan pertarungan politik internal partai, dan sebaliknya berkomunikasi langsung lebih ampuh karena memiliki ikatan emosional dengan peserta kongres yang memiliki hak suara.

Pengamat Politik dari Universitas Nasional (Unas) Alfan Alfian mengatakan, kelemahan Andi Mallaranggeng adalah sejak awal Andi sudah kelewat yakin bahwa dirinya akan menang dalam Kongres II PD.

"Padahal, faktanya Andi tidak mengakar di Partai Demokrat. Dan bagi seorang politisi, mengakar ke bawah jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan restu dari tokoh dan patron di partainya," katanya di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai Andi Mallaranggeng memang sukses melakukan kampanye di udara. Tapi ia gagal di kampanye darat. Terbukti, di putaran pertama pemilihan saja Andi sudah kalah. Sehingga, kampanye besar-besaran yang dilakukan Andi menjadi sia-sia karena saat di kongres suaranya tidak signifikan.

"Sepertinya Andi salah menangkap sinyal yang sempat diutarakan SBY di Rakornas PD, bahwa kandidat ketua umum Partai Demokrat harus populer. Mungkin karena itu pula Andi melakukan kampanye besar-besaran. Tapi ternyata di mata peserta kongres, kampanye yang seperti itu salah sasaran," ujar Burhanuddin.

Oleh karena itu, Anas yang disebut-sebut didukung Denny JA dari LSI beruntung karena strategi kampanye yang digunakannya lebih mengedepankan "serangan darat" atau langsung ke kader partai daripada "serangan udara" atau memanfaatkan pencitraan di media massa.

Salah satunya dengan melakukan survei ke para peserta kongres yang memiliki hak suara karena memang merekalah yang menentukan hasil suara di Kongres II PD. Dan menurut Alfan, ini membuktikan saat ini proses politik rasional lebih bisa diterima dibanding politik emosional.

"Ini membuktikan strategi kampanye yang dilakukan FOX sebagai konsultan politik milik keluarga Andi Mallaranggeng, sejak awal telah salah. Di kongres yang berhak memilih hanya peserta kongres yang memiliki hak suara. Sementara yang dilakukan FOX seolah seperti di ajang Pemilu. Iklannya hampir di semua TV yang disaksikan seluruh masyarakat Indonesia," kata Alfan.

Secara terpisah, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menyatakan selama ini pola kampanye yang dilakukan oleh FOX tidak tepat, mahal dan berbiaya tinggi. Karena karakter yang dibangun FOX adalah politik elitis, bukan politik basis dan mengakar.

”Kongres II Partai Demokrat telah membuktikan pola yang dipakai FOX telah gagal. Karena FOX menyamakan strategi di semua kancah politik. Padahal antara kongres dengan Pilkada dan Pemilu berbeda. Tidak bisa semuanya disamaratakan," kata Boni.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010