Kemenperin akselerasi penggunaan serat alam jadi bahan baku industri

Kemenperin akselerasi penggunaan serat alam jadi bahan baku industri

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)

peluang pengembangan serat alam di masa depan cukup menjanjikan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian akan gencar mendorong percepatan penggunaan material lokal sebagai bahan baku industri,  sejalan dengan gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia dan target substitusi impor 35 persen pada 2022 melalui memajukan industri serat alam.

“Optimalisasi terhadap potensi sumber daya lokal industri berbasis serat alam, nantinya diyakini dapat menunjang aktivitas industri yang berkelanjutan dan berkualitas di dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Menperin menegaskan kepada para pelaku industri di Indonesia agar terus meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dalam proses produksinya.

Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) melalui salah satu unit kerja binaannya, yakni Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta bekerja sama dengan Dewan Serat Indonesia (DSI) dalam mendorong penggunaan serat alam sebagai bahan baku bagi industri terkait.

Upaya tersebut ditempuh dengan melakukan kegiatan untuk memperkenalkan serat alam, salah satunya melalui webinar dengan mengusung topik “Pengetahuan Serat Alam”.


Baca juga: Perajin Kulon Progo ekspor kerajinan serat alam ke AS
 

Kepala BBKB Kemenperin, Titik Purwati Widowati menyatakan, serat alam memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan yang berkualitas tinggi dan bisa dikembangkan terus-menerus.

“Serat alam memiliki kelebihan dibandingkan serat sintetis karena dapat didaur ulang dan terbarukan. Sehingga peluang pengembangan serat alam di masa depan cukup menjanjikan,” jelas Titik.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DSI Euis Saedah mengatakan, pihaknya mengusulkan peta jalan bagi pengembangan industri serat Indonesia pada 2020-2024.

 Menurutnya, serat alam seperti kapas, rami, sisal, abaka, kenaf, dan serat nanas berpotensi dikembangkan di Indonesia.

“Apalagi bahan bakunya memang banyak terdapat di Indonesia,” ujarnya.

DSI juga menjelaskan karakteristik dan contoh serat alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

“Indonesia merupakan lumbung serat dunia, sehingga kekayaan serat ini perlu dimanfaatkan secara optimal,” ujar Euis.


Baca juga: Kemenperin pacu inovasi IKM pangan lewat kompetisi IFI 2020

Penyelenggaraan webinar pengetahuan serat alam tersebut menargetkan peningkatan kesadaran di kalangan pelaku industri, khususnya di industri kerajinan dan batik untuk menggunakan serat alam sebagai bahan baku produk.

Sehingga nantinya akan tercipta diversifikasi produk kerajinan dan batik berbahan baku lokal dan ramah lingkungan.

Secara terpisah, Kepala BPPI Kemenperin Doddy Rahadi mengemukakan, potensi serat alam di Indonesia yang sangat melimpah seharusnya menjadi motivasi bagi para pemangku kepentingan, termasuk lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan material baru melalui diversifikasi produk industri dari serat alam.

“Sekarang tinggal bagaimana kita dapat memanfaatkan potensi serat alam lokal ini menjadi bagian penting bernilai ekonomis untuk mendukung setiap tahap rantai industri berbasis serat alam,” ujarnya.


Baca juga: Kemenperin gelar inkubator bisnis guna cetak wirausaha baru

Baca juga: Balai Litbang Kemenperin dukung hilirisasi produk karet alam

Baca juga: Kemenperin pacu industri keramik, utilisasi naik capai 65 persen


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menperin targetkan investasi industri naik Rp 323,56 T pada 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar