Presiden Jokowi memerintahkan pencarian korban pesawat Sriwijaya Air

Presiden Jokowi memerintahkan pencarian korban pesawat Sriwijaya Air

Dokumentasi - Presiden Joko Widodo melakukan komunikasi radio dari pesawat Hercules A-1341 dengan dengan kru KRI Bung Tomo (357) saat memantau proses penyisiran serpihan pesawat dan evakuasi jasad penumpang pesawat AirAsia QZ8501 dari ketinggian 1.000 kaki dan jarak 100 mil dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Selasa (30/12/2014). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/pras/aa.

Masyarakat diminta dukung operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 melalui doa.
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi beserta Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya Bagus Puruhito untuk melakukan operasi pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 secara cepat.

"Kemarin sore telah saya perintahkan kepada Menteri Merhubungan, Kepala Basarnas yang dibantu TNI dan Polri untuk segera melakukan operasi pencairan dan pertolongan yang secepat-cepatnya kepada para korban," kata Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Ahad.

Diketahui pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada hari Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40 WIB, kemudian diperkirakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

"Saya atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia menyampaikan dukacita yang mendalam atas terjadinya musibah ini," kata Presiden.

Baca juga: Presiden sampaikan dukacita atas jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182

Presiden juga meminta agar masyarakat mendukung operasi pencarian tersebut melalui doa.

"Kita lakukan upaya yang terbaik untuk menemukan dan menyelamatkan korban dan kita doakan bersama, kita berdaa bersama-sama agar para korban bisa ditemukan," ucap Presiden.

Presiden Jokowi juga telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi terhadap kecelakaan tersebut.

"Saya juga telah menyampaikan kepada KNKT untuk melakukan kajian penyelidikan terhadap musibah ini," kata Presiden menegaskan.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak di posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat take off dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya pada pukul 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Baca juga: Presiden pantau pencarian pesawat dan penumpang Sriwijaya Air

Berdasarkan data manifes, pesawat yang diproduksi pada tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi, serta 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik kepolisian, TNI, maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sejumlah armada angkatan laut milik TNI dikerahkan. Sekitar 10 kapal diterjunkan ke lokasi diduga jatuhnya pesawat di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Di antara kapal-kapal TNI AL yang dikerahkan, yakni KRI Teluk Gilimanuk-531 mengangkut para kru SAR dan juga awak media, serta KRI Rigel-933 milik Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal).

Baca juga: Keluarga kopilot Sriwijaya Air datangi Posko Ante Mortem RS Polri

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mendag: Presiden sebut "bipang"dalam konteks kuliner lokal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar