Saham global merosot, kekhawatiran virus imbangi harapan pemulihan

Saham global merosot, kekhawatiran virus imbangi harapan pemulihan

Seorang pria mengenakan masker pelindung berjalan melewati layar yang menampilkan grafik yang menunjukkan rata-rata saham Nikkei baru-baru ini di luar perusahaan pialang, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, 2 November 2020. ANTARA/REUTERS/Issei Kato

Saham Eropa yang diukur oleh indeks STOXX 600 dibuka 0,3 persen lebih lemah
London (ANTARA) - Pasar saham global merosot pada perdagangan Senin, ketika melonjaknya kasus COVID-19 mengimbangi harapan investor akan pemulihan ekonomi yang cepat, sementara ekonomi China membukukan rebound yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal keempat tahun lalu.

Saham Eropa yang diukur oleh indeks STOXX 600 dibuka 0,3 persen lebih lemah, setelah pembicaraan merger gagal antara pengecer Prancis, Carrefour dan Alimentation Couche-Tard Kanada.

Pada awal perdagangan, indeks DAX Jerman turun 0,2 persen, indeks CAC 40 Prancis turun 0,3 persen, indeks FTSE MIB Italia turun 0,3 persen dan indeks FTSE 100 Inggris turun 0,1 persen.

Baca juga: Saham Eropa tergelincir saat Carrefour hentikan pembicaraan merger
Baca juga: Saham Jerman dibuka goyah, Indeks DAX 30 turun 0,62 persen

Di Asia, saham-saham unggulan China naik 0,8 persen setelah ekonominya dilaporkan tumbuh 6,5 persen pada kuartal keempat dari setahun sebelumnya, melampaui perkiraan 6,1 persen.

Produksi industri China untuk Desember juga mengalahkan perkiraan, meskipun penjualan eceran meleset dari target.

"Pemulihan dalam permintaan domestik masih kekurangan dukungan yang kuat," kata Lauri Haliika, ahli strategi pendapatan tetap dan valas di SEB, dikutip dari Reuters. "Wabah virus sporadis telah meningkatkan risiko penurunan dalam waktu dekat."

Hallika mengatakan dampak dari penguncian regional terbaru dan pengujian massal kemungkinan akan terbatas dan berumur pendek.

Peningkatan di China sangat kontras dengan Amerika Serikat dan Eropa, di mana penyebaran virus corona telah memukul pengeluaran konsumen, yang tegaskan oleh penjualan ritel AS yang suram yang dilaporkan pada Jumat (15/1/2021).

Data belanja konsumen AS yang buruk minggu lalu membantu obligasi pemerintah mengurangi beberapa kerugian tajam baru-baru ini dan imbal hasil obligasi 10 tahun diperdagangkan pada 1,087 persen, turun dari puncak minggu lalu 1,187 persen.

Suasana yang lebih tenang pada gilirannya mendorong mata uang safe-haven dolar AS, menarik pasar bearish yang sangat singkat. Spekulan meningkatkan posisi jangka pendek bersih dolar mereka ke yang terbesar sejak Mei 2011 pada pekan yang berakhir 12 Januari.

Juga terbukti adalah keraguan tentang seberapa banyak paket stimulus Presiden AS terpilih Joe Biden akan berhasil melewati Kongres mengingat oposisi dari Partai Republik, dan risiko lebih banyak kekerasan pada pelantikannya pada Rabu (20/1/2021).

Di tempat lain di pasar Asia, Nikkei Jepang tergelincir 0,8 persen dan menjauh dari level tertinggi dalam 30 tahun.

Baca juga: Saham Tokyo ditutup jatuh, tertekan aksi ambil untung

MSCI'S All Country World Index, yang melacak saham di 49 negara, menyusut 0,1 persen, penurunan untuk sesi kedua berturut-turut setelah mencapai rekor tertinggi minggu lalu.

E-Mini berjangka untuk S&P 500 merosot 0,2 persen, meskipun Wall Street akan ditutup pada Senin untuk libur.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Satu tahun pandemi, begini upaya pemerintah turunkan kasus COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar