BI: Hati-hati dan hindari pengunaan alat pembayaran selain rupiah

BI: Hati-hati dan hindari pengunaan alat pembayaran selain rupiah

Ilustrasi - Tangan wanita menghitung uang rupiah. ANTARA/Shutterstock/pri.

Dalam hal ini kami menegaskan bahwa dinar, dirham, atau bentuk-bentuk lainnya selain uang rupiah bukan merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI
Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menegaskan rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia dan setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran yang dilakukan di wilayah Tanah Air wajib menggunakan rupiah.

Ketentuan itu diatur berdasarkan Pasal 23 B UUD 1945 jo. Pasal 1 angka 1 dan angka 2, Pasal 2 ayat (1) serta Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang.

"BI mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dan menghindari penggunaan alat pembayaran selain rupiah," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono di Jakarta, Kamis, sehubungan dengan adanya indikasi penggunaan alat pembayaran selain rupiah di masyarakat.

Baca juga: Rupiah Kamis pagi melemah 20 poin

Baca juga: Rupiah diperkirakan terkoreksi dipicu kekhawatiran soal stimulus di AS


"Dalam hal ini kami menegaskan bahwa dinar, dirham, atau bentuk-bentuk lainnya selain uang rupiah bukan merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI," kata Erwin menambahkan.

BI mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan rupiah sebagai mata uang NKRI.

BI, kata Erwin, berkomitmen untuk terus mendorong gerakan untuk mencintai dan merawat rupiah bersama dengan otoritas terkait dan seluruh komponen masyarakat sebagai salah satu simbol kedaulatan negara.

Baca juga: Rupiah berpotensi menguat di tengah penantian pengumuman The Fed
 

Pewarta: Ahmad Buchori
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BI Jember optimistis sektor perdagangan akan terus meningkat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar