Basarnas: Keterbatasan EWS persulit tim memprediksi longsor susulan

Basarnas: Keterbatasan EWS persulit tim memprediksi longsor susulan

Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah berbicara dalam Forum Group Discussion (FGD) Tanah Longsor di Sumedang yang diselenggarakan oleh BNPB, secar virtual, Jakarta, Rabu (3/2/2021). ANTARA/Katriana.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah mengakui keterbatasan sistem peringatan dini (EWS) menyebabkan tim SAR tidak dapat memprediksi potensi longsor susulan, sehingga menyebabkan jumlah korban bertambah dari tim yang mengupayakan evakuasi saat longsor susulan di Kabupaten Sumedang.

"Saat kami mendesain perencanaan, tiba-tiba longsoran kedua atau longsor susulan terjadi, sehingga menyebabkan banyak korban. Karena, baik kami maupun pemerintah Kabupaten Sumedang belum memiliki EWS dalam pelaksanaan operasi SAR," kata Deden dalam Forum Group Discussion (FGD) Tanah Longsor di Sumedang yang diselenggarakan oleh BNPB secara virtual di Jakarta, Rabu.

Baca juga: BPBD Jabar: Tanggap darurat masih fokus pada dampak longsor Sumedang

Ia mengatakan dalam upaya evakuasi dampak bencana longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Tim SAR dari Basarnas langsung bergabung dengan tim BPBD Sumedang, Kepolisian Sumedang dan unsur SAR lain setibanya di lokasi evakuasi.

Mereka langsung berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan terkait dan membagi tugas pemantauan dan observasi yang dilanjutkan dengan tahap perencanaan operasi SAR.

Namun sayangnya, karena keterbatasan sistem peringatan dini, Tim SAR di lapangan tidak dapat memprediksi adanya potensi longsoran susulan, sehingga korban bencana bertambah akibat longsor susulan tersebut.

Pascalongsor susulan itu, Tim SAR dari berbagai unsur di lapangan langsung melaksanakan operasi SAR dan menemukan 14 korban yang 3 diantaranya berhasil selamat di malam pertama operasi evakuasi darurat tersebut.

Deden mengatakan ada banyak kendala yang dihadapi selama pelaksanaan operasi SAR, salah satunya adalah kendala cuaca. Faktor cuaca mempersulit operasi SAR. Sementara material longsoran yang begitu tinggi juga diakui menyulitkan tim dalam upaya pembuangan material longsoran.

"Untuk itu kami berkoordinasi dengan 'incident commander' yang akhirnya kami robohkan beberapa rumah untuk mempermudah pergerakan alat berat, kemudian untuk mempermudah juga pembuangan material," katanya.

Sementara itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) juga diakui menjadi salah satu kendala karena terbatasnya SDM yang memiliki kompetensi di bidang pencarian dan pertolongan.

Baca juga: Mewaspadai longsor yang mengintai Jawa Barat

Baca juga: Longsor Sumedang, Polisi temukan pelanggaran pembangunan perumahan


Oleh karena itu, dalam evaluasi pascaoperasi SAR, Deden mengajak seluruh relawan, seluruh potensi SAR yang ada baik dari unsur TNI dan Polri, kemudian juga para pemuda dan organisasi mandiri serta masyarakat untuk selalu meningkatkan kemampuan sumber daya dengan melakukan latihan bersama.

Selain itu, upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan untuk mengatasi potensi longsor lainnya, menurut dia, perlu dilakukan secara terus menerus. Selain itu, juga perlunya kerja sama untuk melakukan upaya edukasi kepada masyarakat agar mereka mengetahui cara menyelamatkan diri, keluarga dan orang di sekitarnya bilamana terjadi bencana alam.

"Karena mau tidak mau masyarakat itu sendiri sebagai pahlawan atau rescuer saat terjadi bencana," katanya.

Deden juga menyarankan adanya keterlibatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam tim reaksi cepat untuk bisa memahami dan menentukan potensi ancaman bencana lain, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan.

Pewarta: Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Buka unit siaga SAR di Muna, Basarnas beri pelatihan kepada 50 potensi SAR

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar