DLHK Pekanbaru olah minyak jelantah jadi biodisel

DLHK Pekanbaru olah minyak jelantah jadi biodisel

Minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang bisa diolah menjadi bahan baku biodiesel. ANTARA/Frislidia

"Untuk mendapatkan minyak jelantah itu DLHK Pekanbaru mengumpulkannya dari masyarakat yang menjual minyak tersebut ke Bank Sampah Kota Pekanbaru," ...
DLHK Pekanbaru (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru saat ini mengolah minyak jelantah atau minyak goreng bekas menjadi bahan baku biodiesel karena potensi minyak goreng bekas itu banyak tersedia di masyarakat.

"Untuk mendapatkan minyak jelantah itu DLHK Pekanbaru mengumpulkannya dari masyarakat yang menjual minyak tersebut ke Bank Sampah Kota Pekanbaru," kata Kepala Seksi Pengurangan dan Pemanfaatan Sampah, penanggung jawab Bank Sampah DLHK Kota Pekanbaru, Wenny Arizona, dalam keterangannya di Pekanbaru, Sabtu.

Dia mengatakan, setiap kg minyak jelantah yang mereka setor akan dihargai dengan rupiah dan mereka bisa mencatatkan hasil penjualan minyak jelantah tersebut ke dalam buku tabungan, buku ini dicetak oleh pengelola bank sampah Kota Pekanbaru.

Dia mengatakan keberadaan Bank Tabungan Sampah Kota Pekanbaru selama ini masih melayani warga yang menyetorkan sampah anorganik seperti kaca, plastik, besi, karah, kertas dan lainnya yang dihargai dengan rupiah.

Saat menabung sampah, katanya warga mendapatkan buku tabungan sampah yang sewaktu-waktu jika tabungan sampah mereka sudah besar bisa dicairkan dalam bentuk uang.
Baca juga: Minyak jelantah bisa penuhi sebagian kebutuhan biodiesel nasional

"Menabung sampah ini biasanya rutin diseror setiap Kamis pagi kini selain sampah anorganik saja yang bisa ditabung, juga minyak jelantah yang dikelola DLHK Kota Pekanbaru dengan Bank Jelantah Pekanbaru yang menerima minyak goreng bekas itu," katanya.

Aksi menabung minyak jelantah sudah dilakukan ASN dan tenaga harian lepas DLHK Pekanbaru, dan minyak goreng bekas yang ditabung sudah mencapai 27 kg.

Dikatakan Wenny, sebagai upaya menjaga lingkungan, DLHK Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk tidak membuang minyak jelantah sembarangan.

Ryan, pengelola Bank Jelantah Pekanbaru mengatakan minyak jelanta masih dapat dimanfaatkan kembali dan dapat mencemari lingkungan bila dibuang langsung begitu saja. Bila diproses lebih lanjut minyak jelantah dapat dijadikan alternatif bahan baku biodiesel.

"Minyak jelantah ini akan diproses lagi dan bisa diekspor ke luar negeri untuk dijadikan biodiesel," kata Ryan.

Bagi yang ingin menabung minyak jelantah ke Bank Jelantah dapat melalui narahubung 0822-9835-4357 atau akun Instagram @bankjelantah.pekanbaru.

Sebelumnya koordinator kelompok mahasiswa UII Kharis Pratama di Yogyakarta, mencari metode yang tepat untuk memproses minyak jelantah menjadi biodisel. Hal ini memang tidak mudah karena dengan metode yang biasa kendalanya biodiesel masih memiliki kadar air yang tinggi sehingga kurang berkualitas.
Baca juga: Perempuan pengusaha Yogyakarta ciptakan sabun dari minyak jelantah

"Metode yang tepat yakni dengan memanfaatkan reaksi transesterifikasi untuk mengkonversi minyak jelantah, dan proses konversi dilakukan dengan cara memberikan aliran listrik (elektrolisis) ke dalam larutan minyak jelantah dengan variasi waktu tertentu. Berikutnya elektroda atau batang logam yang digunakan untuk mengaliri listrik telah dilumuri dengan larutan khusus yang disebut kitosan gel," katanya.

Reaksi transesterifikasi selama elektrolisis mengubah minyak jelantah ke dalam dua lapisan, yang berwarna coklat merupakan lapisan gliserol, sedangkan lapisan atas yang berwarna kuning keruh merupakan lapisan biodiesel," katanya.

Tahap akhir dari proses itu, katanya adalah mencuci lapisan biodiesel dari residu hingga menghasilkan biodiesel murni yang siap pakai.

Berdasarkan data, Indonesia termasuk negara yang konsumsi minyak gorengnya tinggi karena hampir semua jenis makanan diproses dengan memakai minyak goreng. Banyak minyak jelantah sisa produksi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat biodiesel murni.

Sementara itu data menunjukkan rata-rata konsumsi minyak goreng sawit di Indonesia setiap tahun mencapai 5,5 juta ton atau 24 persen dari total produksi minyak goreng sawit per tahun sebesar 23 juta ton.

Sedangkan minyak jelantah adalah minyak sisa-sisa dari penggorengan. Dilihat dari komposisi kimia, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan.

Pemakaian minyak jelantah bisa merusak kesehatan manusia, menimbulkan kanker. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat langsung membuang minyak jelantah itu.
Baca juga: Riset: minyak jelantah bisa diubah menjadi surfaktan

Pewarta: Frislidia
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar