Artikel

Menanam pangan di rumah berarti menanam obat

Oleh D.Dj. Kliwantoro

Menanam pangan di rumah berarti menanam obat

Peneliti urban farming dan biologi lingkungan dari UIN Walisongo Semarang Dian Armanda di depan bunga telang. Bunga berwarna ungu ini biasanya untuk pewarna makanan alami. ANTARA/HO-CitiGrower

Untuk meningkatkan imunitas, tanam pula meniran di rumah
Semarang (ANTARA) - Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang melanda dunia telah menuntut sejumlah negara untuk lebih mandiri pangan.

Bahkan, di antara negara yang sedang menghadapi wabah ini menerapkan perubahan pola supply and demand (penawaran dan permintaan), di antaranya membatasi ekspor, terutama makanan pokok, kemudian mempermudah impor.

Sejumlah negara, termasuk Indonesia, mengeluarkan sejumlah regulasi guna menekan kasus COVID-19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kemudian pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), lalu PPKM mikro yang memperketat kegiatan masyarakat skala rukun tetangga dan rukun warga (RT/RW) atau desa.

Aturan di tengah wabah COVID-19 ini juga menuntut sejumlah karyawan berdiam di rumah karena ada aturan 25 persen dari total karyawan bekerja dari kantor (work from office), dan 75 persen bekerja dari rumah (work from home).

Belakangan, sejak pemberlakuan PPKM mikro di Jawa dan Bali, 9—22 Februari 2021, pembatasan di perkantoran menjadi 50 persen WFO dan 50 persen WFH. Dengan demikian, pekerja kantoran mempunyai waktu luang di rumah selama pandemi COVID-19.

Peneliti urban farming dan biologi lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Dian Armanda lantas menyarankan agar mereka memanfaatkan waktu untuk berkebun di rumah.

Apalagi, kata dosen UIN ini, lebih banyak negara yang memacu produksi mandiri pangannya, terutama untuk sayuran dan buah yang dianggap perishable (berumur pendek) dan bernilai tinggi.

"Pandemi COVID-19 memacu produksi lokal sayuran dan buah di seluruh dunia," kata kandidat doktor dari Institute of Environmental Science, Leiden University, Belanda ini.

Jika ingat kembali prinsip seorang ilmuwan Muslim terkemuka pada tahun 1000-an Masehi bernama Ibnu Sina, menanam pangan di rumah berarti menanam obat.

Apa yang diutarakan ilmuwan yang juga filsuf dan dokter kelahiran Persia ini sekaligus sebagai motivasi bagi pemula yang akan berkebun di rumah. Sementara itu, bagi yang hobi berkebun di perkarangan rumahnya, akan menambah semangat dan lebih intens.

Ditambah lagi, terdapat tanaman herbal untuk tingkatkan imun terhadap sejumlah penyakit, termasuk virus corona, bisa ditanam di perkarangan rumah. Hal ini mengingat masa pandemi seolah mengharuskan masyarakat menjaga imunitas tubuh sebaik-baiknya.

Misalnya, meniran.Tumbuhan terna (tumbuhan dengan batang lunak tidak berkayu) yang daunnya mirip daun asam, tangkainya bersegi-segi dan halus berwarna hijau, air perasan batang dan akarnya digunakan untuk mengobati sakit batuk dan melancarkan air kencing.

Ekstrak meniran ini, menurut Dian Armanda, terbukti klinis memelihara/memperbaiki imunitas tubuh.

Ibnu Sina pada abad ke-11 telah mengembangkan penelitian dan manuskrip mengenai diet dan makanan sebagai obat. Sang dokter lantas memasukkan resep makanan yang berkhasiat sebagai obat.

"Ini merupakan bukti keterpaduan makanan dan obat," kata Dian Armanda yang juga pendiri start up CitiGrower (inisiatif urban farming berbasis digital).

Berdasarkan fakta ini, bisa menarik kesimpulan bahwa menanam makanan yang sehat di rumah masing-masing sebenarnya adalah menanam obat alami itu sendiri.

Dengan demikian, makanan tidak hanya bermanfaat sebagai pengenyang tubuh, energi untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi obat bagi yang sakit.

Baca juga: Peneliti IPB: 80 persen tanaman obat dunia ada di Indonesia

Baca juga: Ahli: Puluhan ribu tanaman di Indonesia belum tereksplorasi jadi obat

Apotek Hidup

Bila membahas mengenai bagaimana membangun apotek hidup di rumah, tidak lepas dari pembahasan kebun pangan. Hal inilah, menurut Dian, perlu dimengerti terlebih dahulu sebelum membangun apotek hidup.

Ketika membahas sayuran, buah, maupun rempah, semua mengandung peran sebagai obat meskipun belum seluruhnya kandungan kimia semua bahan pangan itu diketahui oleh manusia.

Bisa dikatakan bahwa apa yang dikembangkan sekarang sebagai obat alami baru sependek pemahaman akan kekayaan alam di Indonesia.

Jika melihat peta obat alami Indonesia, patut bersyukur Indonesia itu sangat kaya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi sekitar 80 persen tanaman berkhasiat obat tumbuh di Tanah Air.

Setidaknya 28.000 jenis tumbuhan hidup di negeri ini, bahkan ada juga menyebutkan 30.000 spesies tumbuhan, atau malah 32.000 spesies tumbuhan dan jamur. Di antara jumlah itu ada 1.845 yang merupakan tanaman obat. Namun, baru 283 yang terdaftar resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kemudian masyarakat mengonsumsinya.

Lalu jenis apa saja yang telah diteliti dan terbukti klinis berkhasiat. Dian Armanda lantas menyebutkan tiga golongan jenis obat tradisional, yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu belum melalui uji klinik (pada manusia) dan praklinik (pada hewan). Namun, pengalaman secara turun-temurun menunjukkan adanya efek yang dirasakan setelah mengonsumsinya. Ada kurang lebih 8.000 merek jamu di negeri ini.

Perbedaan utama obat herbal terstandar dengan jamu adalah khasiat dan keamanannya telah secara ilmiah dibuktikan lewat uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi.

Sementara itu, pada obat herbal terstandar sudah bisa dicantumkan klaim khasiatnya. Akan tetapi, itu juga sekadar misalnya membantu mengendalikan kadar gula darah, bukan antidiabetes. Ada 62 merek obat herbal terstandar di Indonesia.

Fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik serta bahan baku dan produk jadinya sudah distandardisasi.

Pada obat ini, jenis klaim penggunaannya sudah sesuai dengan tingkat pembuktian medium dan tinggi, sudah boleh mencantumkan klaim, seperti antihipertensi dan antidiabetes. Di Indonesia baru ada 25 fitofarmaka terdaftar.

Baca juga: Balitbangtan sebut 50 tanaman berpotensi sebagai antivirus

Baca juga: Tanaman obat semakin diminati


Sesuai Kebutuhan

Masyarakat setidaknya mengetahui tanaman-tanaman obat berkhasiat, seperti seledri, meniran, kumis kucing, jahe, kunyit, temulawak, temukunci, cabai jawa, jeruk, jeruk nipis, lengkuas, kencur, lidah buaya, daun sirih, kemangi, dan sereh.

Setelah mengetahui tanaman-tanaman obat yang sudah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat, sekarang tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Misalnya, memiliki keluhan tekanan darah tinggi, seledri, kumis kucing, dan daun zaitun, sangat bisa ditanam di rumah.

"Untuk meningkatkan imunitas, tanam pula meniran di rumah," kata peneliti urban farming Dian Armanda.

Alangkah baiknya lagi bisa mengutamakan tanaman yang memiliki ragam fungsi, baik sebagai sumber pangan, bumbu masakan, suplemen, obat, maupun untuk tanaman hias.

Dengan begitu, rumah makin indah dipandang, penghuninya makin sehat, dan ketahanan pangan keluarga makin kukuh yang akan bermuara pada ketahanan pangan nasional.

Baca juga: Kementan: Tanaman obat dan fungsional peluang bisnis di tengah pandemi

Baca juga: Peneliti IPB ingatkan tidak semua tanaman obat aman dikonsumsi

 

Oleh D.Dj. Kliwantoro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar