Inggris siap salurkan surplus vaksin untuk negara berkembang via COVAX

Inggris siap salurkan surplus vaksin untuk negara berkembang via COVAX

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, dalam tangkapan layar acara konferensi pers virtual ‘Towards a COVID-19 Vaccine’ di Jakarta, Jumat (5/6/2020). (ANTARA/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA) - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengonfirmasi bahwa pemerintahannya akan menyalurkan kelebihan dosis vaksin COVID-19 yang dimiliki negara itu kepada negara-negara berkembang melalui fasilitas pengadaan vaksin global, COVAX.

Berdasarkan keterangan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Jumat, keputusan tersebut diambil sebagai kontribusi tambahan dari dana yang telah dikucurkan Inggris untuk fasilitas COVAX, yakni sebesar 548 juta poundsterling (setara Rp10,7 triliun).

"Dengan memanfaatkan kecerdasan kolektif, kita dapat memastikan bahwa kita mempunyai vaksin, pengobatan, dan pengujian untuk siap siaga terhadap ancaman kesehatan di masa mendatang, selagi mengalahkan COVID-19 dan kembali pulih," kata Johnson, menjelang pertemuan G7 pada hari yang sama.

Namun, jumlah kelebihan vaksin yang akan disumbangkan kemungkinan baru dapat diketahui kemudian pada tahun ini, bergantung pada keberlanjutan rantai pasok vaksin dan apakah diperlukan vaksin baru untuk sejumlah varian virus.

"Indonesia adalah salah satu dari 92 negara yang layak menerima vaksin melalui COVAX, sehingga akan menjadi satu di antara negara-negara yang akan mendapat manfaat dari kebaikan (Inggris) ini," kata Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins, dalam keterangan yang sama.

PM Johnson juga mengumumkan Inggris ingin memangkas waktu pengembangan vaksin baru sebanyak dua pertiga kali, menjadi 100 hari saja. Ia telah meminta otoritas terkait, bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)--salah satu pelopor COVAX, untuk menyerukan G7 agar mempercepat proses pengembangan itu.

"Pengembangan vaksin COVID-19 dalam waktu sekitar 300 hari merupakan suatu pencapaian global yang hebat dan belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan memangkas waktu pengembangan vaksin baru untuk penyakit yang muncul kemudian, kita mungkin dapat mencegah malapetaka kesehatan, ekonomi, dan sosial seperti dalam krisis saat ini," kata dia.

Kasus COVID-19 pertama terdeteksi di Wuhan, China, pada akhir Desember 2019. Kemudian pada November 2020, terhitung 314 hari setelahnya, Pfizer-BioNTech mengumumkan keberhasilan pertama uji coba vaksin.

Kelompok tujuh negara ekonomi terbesar dunia, G7, yang terdiri dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, serta Uni Eropa akan menggelar konferensi virtual tertutup pada Jumat malam pukul 21.00 WIB.

Para pemimpin negara G7 diharapkan dapat memberikan dukungan bagi prioritas kesehatan yang diajukan oleh Inggris sebagai tuan rumah tahun ini, serta akan membahas sejumlah isu, termasuk pemulihan ekonomi hijau dari pandemi.

Baca juga: Inggris sambut bergabungnya Indonesia dalam Mekanisme Pasar COVAX
 

Pewarta: Suwanti
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Lonceng Westminster Abbey berbunyi 99 kali, penghormatan untuk Pangeran Philip

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar