Indonesia-Inggris tegaskan komitmen kolaborasi program vaksinasi COVID

Indonesia-Inggris tegaskan komitmen kolaborasi program vaksinasi COVID

Tangkapan layar - Menteri Riset dan Teknologi RI Bambang Brodjonegoro dalam kegiatan Forum Sains Interdisipliner Indonesia-Inggris, UKICIS, Kamis (25/2/2021). ANTARA/Suwanti/aa.

Untuk menghadapinya, kita perlu bekerja erat dengan negara lain, termasuk Indonesia, dengan berbagi pembelajaran dan berkolaborasi secara internasional dalam program vaksinasi
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dan Inggris menegaskan kembali komitmen kolaborasi bilateral serta melalui fasilitas multilateral dalam hal pelaksanaan program vaksinasi COVID-19, demikian diungkapkan menteri kedua negara.

Menteri Luar Negeri Inggris untuk Asia, Nigel Adams, dalam pertemuan forum komunitas akademisi Indonesia-Inggris, Kamis, mengatakan pemerintah negaranya kian menyadari bahwa pandemi merupakan persoalan global yang membutuhkan solusi secara global.

"Untuk menghadapinya, kita perlu bekerja erat dengan negara lain, termasuk Indonesia, dengan berbagi pembelajaran dan berkolaborasi secara internasional dalam program vaksinasi," ujar Adams.

Indonesia dan Inggris meluncurkan konsorsium interdisipliner, UKICIS, pada Agustus 2020. Enam universitas dari kedua negara di bawah forum itu, Kamis, menandatangani nota kesepahaman untuk riset sains-teknologi.

Konsorsium tersebut, menurut Adams, menjadi wadah praktis bagi pemerintah Indonesia dan Inggris untuk menyalurkan komitmen dukungan terhadap riset, pengembangan, dan kemitraan bidang keilmuan yang diperlukan di bawah kondisi krisis seperti saat ini.

Menteri Riset dan Teknologi RI Bambang Brodjonegoro, dalam acara yang sama, menyebut bahwa Indonesia telah memesan vaksin COVID-19 dari perusahaan Inggris AstraZeneca, hasil pengembangan bersama dengan Universitas Oxford, "dalam jumlah yang signifikan".

"Tentu saja kami ingin belajar lebih lagi dari Inggris mengenai pengembangan vaksin, khususnya dalam hal riset," kata Bambang.

"Dan secara bersamaan, kami juga ingin mengapresiasi Inggris karena telah sangat suportif dalam menjamin ketersediaan vaksin untuk semua orang di dunia, bukan hanya di Inggris ataupun di Indonesia, melalui partisipasi pada fasilitas COVAX," ujar Bambang.

Britania Raya, yang berpenduduk hampir 68 juta jiwa, memulai program vaksinasi secara massal pada 8 Desember 2020 menggunakan vaksin hasil pengembangan bersama perusahaan asal AS dan Jerman, Pfizer-BioNTech.

Program vaksinasi negara itu kemudian digenjot seiring dengan peningkatan jumlah kasus infeksi baru. Britania Raya mulai menggunakan vaksin AstraZeneca pada 4 Januari 2021.

Sementara Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima suntikan vaksin COVID-19 Sinovac, perusahaan farmasi asal China, dalam kampanye vaksinasi nasional pada 13 Januari 2021.

Sebelum itu, pada 30 Desember 2020, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengumumkan bahwa Indonesia berhasil mengamankan pasokan vaksin dari sumber lainnya, yakni dari AstraZeneca dan Novavax--perusahaan AS, masing-masing sebanyak 50 juta dosis.


Baca juga: Penipu tawarkan 400 juta vaksin COVID "mambang" di EU

Baca juga: Thailand terima pasokan pertama vaksin virus corona

Pewarta: Suwanti
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

DPR RI dukung Badan POM uji klinis fase II Vaksin Nusantara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar