Laporan dari Kuala Lumpur

Petronas mengalami kerugian Rp73,9 triliun

Petronas mengalami kerugian Rp73,9 triliun

Sejumlah warga berjalan di taman kawasan Menara Berkembar Petronas (KLCC) di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (7/9/2020). Pemerintah Malaysia menutup pintu masuk warga pemegang visa jangka panjang dari 23 negara yang beresiko tinggi terhadap COVID-19 antara lain Indonesia, Amerika Serikat, India, Spanyol, Inggris, Arab Saudi, Perancis, Turki, Italia, Jerman. ANTARA FOTO/Rafiuddin Abdul Rahman/pras.

Kuala Lumpur (ANTARA) - Perusahaan minyak Malaysia, Petronas, mengalami rugi bersih RM21 miliar atau hampir Rp74 triliun untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2020 dibandingkan dengan laba bersih RM40,5 miliar atau Rp140 triliun tahun sebelumnya.

"Namun, jika tidak memperhitungkan penurunan nilai, perusahaan migas nasional itu mencatatkan laba bersih sebesar RM10,5 miliar untuk tahun buku 2020, turun 78 persen dari RM48,8 miliar pada tahun sebelumnya," ujar Presiden dan Chief Executive Officer Petronas Group, Tengku Muhammad Taufik pada jumpa pers virtual di Kuala Lumpur, Jumat.

Dia mengatakan Petronas juga mencatat pendapatan yang lebih rendah sebesar RM178,7 miliar dibandingkan dengan RM240,3 miliar tahun sebelumnya sebagian besar disebabkan oleh penurunan tajam harga minyak mentah, yang menunjukkan harga realisasi yang lebih rendah untuk semua produk.

"Hal ini semakin diperparah oleh gangguan permintaan yang mengakibatkan penurunan volume penjualan gas olahan, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG)," katanya.

Untuk kuartal keempat yang berakhir pada 31 Desember 2020, ujar dia, Petronas membukukan laba bersih sebelum penurunan sebesar RM200 juta dibandingkan dengan RM9,4 miliar pada kuartal yang sama tahun sebelumnya karena pendapatan rendah dan pengeluaran bersih yang tinggi lainnya.

"Selama kuartal tersebut, penurunan nilai aset mencapai RM1,3 miliar, mengakibatkan kerugian bersih sebesar RM1,1 miliar dibandingkan dengan laba bersih sebesar RM4,1 miliar pada kuartal yang sama tahun sebelumnya," katanya.

Taufik mengatakan tahun 2020 terbukti menjadi tahun yang luar biasa dengan dampak pandemi COVID-19 serta gagalnya aliansi anggota OPEC dan sekutunya untuk menarik kesimpulan yang akurat tentang perminyakan, kesepakatan produksi dan ketidakseimbangan pasar energi.

"Itu terus berdampak besar pada permintaan energi global dan harga minyak," katanya.

Tengku Taufik mengatakan meski menghadapi tantangan lingkungan, perusahaan migas nasional ini bertindak cepat dengan melakukan upaya pengurangan risiko agar tetap tangguh.

Dia mengatakan Petronas tetap fokus pada efisiensi operasional, keunggulan komersial, dan disiplin fiskal di semua rantai nilainya.

Baca juga: Naik 22 persen, laba Petronas Malaysia jadi 13,52 miliar dolar

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Hubungan memburuk, Malaysia usir semua diplomat Korea Utara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar