Waspada, BPS: Laju inflasi melambat, pandemi terus bayangi ekonomi RI

Waspada, BPS:  Laju inflasi melambat, pandemi terus bayangi ekonomi RI

ilustrasi - Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/1/2021). Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 3,75 persen yang konsisten dengan perkiraan inflasi tetap rendah dan stabilitas eksternal terjaga sebagai upaya bersama untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc/pri.

Laju inflasi ini lebih lambat dari bulan sebelumnya dan bulan sama tahun sebelumnya. Dampak pandemi belum reda dan terlihat permintaan domestik masih lemah
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pergerakan laju inflasi yang melambat pada awal 2021 masih dipengaruhi oleh dampak pandemi COVID-19 kepada perekonomian.

"Ini mengindikasikan dampak pandemi terus membayangi perekonomian dan perlu kita waspadai," kata Suhariyanto dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Senin.

Suhariyanto mengatakan pandemi ini telah menyebabkan mobilitas masyarakat menjadi berkurang, roda perekonomian tidak bergerak, pendapatan ikut berkurang, dan penerimaan menjadi melemah.

Kondisi itu terlihat dari pencatatan inflasi pada Februari 2021 sebesar 0,10 persen atau lebih rendah dari Januari 2021 sebesar 0,26 persen dan Februari 2020 sebesar 0,28 persen.

Baca juga: BPS: Kenaikan harga cabai rawit dan ikan picu inflasi Februari 2021

"Laju inflasi ini lebih lambat dari bulan sebelumnya dan bulan sama tahun sebelumnya. Dampak pandemi belum reda dan terlihat permintaan domestik masih lemah," katanya.

Ia menambahkan inflasi yang melambat ini juga terlihat dari lima kelompok pengeluaran pada Februari 2021 yang tidak memberikan andil sama sekali terhadap inflasi.

Kelompok tersebut antara lain pakaian dan alas kaki, kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga, dan budaya, serta pendidikan.

Baca juga: BPS catat inflasi Februari 2021 sebesar 0,10 persen

Untuk itu ia mengharapkan adanya upaya lanjutan untuk meningkatkan kembali permintaan, menaikkan daya beli masyarakat dan mendorong kinerja konsumsi rumah tangga.

"Dari sisi suplai, bahan makanan terjaga tapi permintaan masih cenderung lemah. Ini jadi tantangan untuk memperkuat konsumsi rumah tangga ke depan," kata Suhariyanto.

Sebelumnya BPS mencatat terjadinya inflasi pada Februari 2021 sebesar 0,10 persen karena pengaruh kenaikan harga cabai rawit, ikan segar dan beras.

Dengan inflasi ini, maka inflasi tahun kalender Januari-Februari 2021 tercatat sebesar 0,36 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) 1,38 persen.

Baca juga: BPS: Pertama kali deflasi 3 bulan beruntun, tanda daya beli turun

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BPS catat ekonomi kuartal I-2021 terkontraksi 0,74%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar