Tenis

Swiatek bangun kekuatan mental dengan main Lego

Swiatek bangun kekuatan mental dengan main Lego

Petenis Iga Swiatek (REUTERS)

Ketika saya merasa baik secara fisik dan mental, saya bisa menang di mana saja
Jakarta (ANTARA) - Membuat model yang rumit pada Lego menjadi bagian penting dari persiapan kejuaraan French Open bagi Iga Swiatel untuk membangun kepercayaan diri saat bertanding.

Petenis Polandia berusia 19 tahun itu tahun lalu menjadi perempuan termuda yang memenangi gelar Roland Garros, setelah Monica Seles pada 1992, dan pada Sabtu (27/2) membawa pulang trofi kedua dalam karirnya di Adelaide International.

Swiatek sering menghubungkan kesuksesannya dengan psikolog olahraganya Daria Abramowicz, yang telah membantu Swiatek meningkatkan kekuatan mentalnya dan memproses pikirannya selama pertandingan yang intens.

Baca juga: Swiatek lumpuhkan Bencic untuk juarai Adelaide International

Swiatek, yang tercatat naik peringkat ke-15, Senin, mengatakan membuat Lego untuk membangun kekuatan mentalnya.

"Daria memiliki ide untuk membuat beberapa model dan Lego, dan saya pikir itu bekerja dengan sempurna untuk pikiran saya karena saya adalah tipe orang yang hanya suka berpikir logis dan membangun," kata Swiatek, dikutip dari Reuters, Senin.

"Saya sebenarnya melakukannya di Melbourne, dengan dua model kayu. Saya bepergian dengan mereka dari Polandia. Dan itu aneh karena ketika saya di bandara saya memiliki dua koper besar, tas tenis dan dua model Lego di tangan saya. Jadi itu lucu," dia melanjutkan.

Swiatek mengatakan dia telah menyelesaikan sekitar 70 persen blok Lego yang dia pesan sebelum datang ke Australia, di mana dia melakukan karantina selama 14 hari sebelum bertanding di Grand Slam pertama tahun ini.

Baca juga: Pandemi buat Swiatek tak dimabuk kesuksesan French Open

"Saya sangat sedih karena waktunya akan segera berakhir, tapi bagus sekali, ini sangat menyenangkan, jadi semua orang harus mencoba Lego," ujar Swiatek.

Swiatek menjadi perempuan pertama yang menang di Roland Garros tanpa kehilangan satu set pun, terakhir kali Justine Henin pada 2007, dan sekali lagi tidak kehilangan satu set pun di Adelaide di mana dia hanya kehilangan 22 game.

"Menurut saya permukaannya tidak benar-benar berdampak besar," kata Swiatek kepada podcast WTA Insider.

"Ketika saya merasa baik secara fisik dan mental, saya bisa menang di mana saja," dia menambahkan.

Baca juga: Swiatek siap jadi sorotan lagi setelah 'nikmati' karantina
Baca juga: Swiatek berambisi juarai seluruh Grand Slam dan Olimpiade

 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar