Rupiah masih lanjut melemah meski imbal hasil obligasi AS turun

Rupiah masih lanjut melemah meski imbal hasil obligasi AS turun

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Rupiah ditutup melemah 70 poin atau 0,49 persen ke posisi Rp14.325 per dolar AS
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore masih berlanjut melemah, meski imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat telah turun pada pekan ini.

Rupiah ditutup melemah 70 poin atau 0,49 persen ke posisi Rp14.325 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.255 per dolar AS.

"Dari eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh menguatnya indeks dolar AS," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Rupiah masih melemah dipicu stimulus dan data ekonomi AS

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kini stabil di level 1,42 persen setelah sempat naik hingga 1,6 persen pada pekan lalu.

Hal itu didorong sentimen para pelaku pasar yang percaya bahwa yield obligasi AS naik terlalu cepat di saat inflasi di AS masih cukup rendah serta kuatnya sinyal dari The Fed untuk terus mempertahankan tingkat suku bunga rendah.

"Kenaikan yield US teasury yang dilatarbelakangi prospek pertumbuhan ekonomi serta inflasi yang kemungkinan menanjak, juga berarti pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan bank sentral AS akan mengurangi nilai program pembelian obligasi dan surat berharga lainnya," ujar Ibrahim.

Indeks dolar AS saat ini berada di level 91,3, naik 0,23 atau 0,26 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Dari internal, pemerintah memberikan insentif tambahan ke sektor properti. Sebelumnya Bank Indonesia (BI) menetapkan kebijakan uang muka atau down payment (DP) nol persen untuk kredit pemilikan rumah (KPR).

Kini, pemerintah menetapkan pajak pertambahan nilai (PPN) nol persen atau PPN ditanggung pemerintah yang berlaku mulai 1 Maret 2021 sampai 31 Agustus 2021.

Menurut Ibrahim, kebijakan ini merupakan upaya yang baik diambil oleh pemerintah yang bertujuan untuk menggerakkan ekonomi khususnya properti, yang diharapkan akan dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional dan kebijakan tersebut akan membantu pengembang perumahan dalam peningkatan penjualan di tengah pandemi COVID-19.

"Bagusnya, data internal tidak bisa mengangkat sentimen positif karena data eksternal lebih kuat perannya, sehingga wajar kalau rupiah melemah cukup tajam dan dalam minggu ini bisa ke posisi Rp14.500 per dolar AS," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.273 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.270 per dolar AS hingga Rp14.330 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah Rp14.307 per dolar AS, dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.300 per dolar AS.

Baca juga: Yuan balik menguat 129 basis poin menjadi 6,4625 terhadap dolar AS
Baca juga: Dolar menguat terangkat perdagangan reflasi, Aussie dan bitcoin naik

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Polda Sumut sita aset bernilai miliaran rupiah dari bandar narkoba

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar