Jakarta (ANTARA News) - Sepuluh hari sebelum dilantik menjadi Presiden AS ke-44, pada 10 Januari 2009, kepada ABC News, Barack Hussein Obama berjanji akan membentuk tim khusus yang bertugas mengupayakan perdamaian di Timur Tengah segera setelah dia resmi menduduki Gedung Putih.

Saat itu Obama berkata, "Apa yang sedang saya lakukan sekarang adalah membentuk tim sehingga sejak 20 Januari, dimulai dari Hari Pertama, kami memiliki orang-orang yang paling mampu menangani dengan segera proses damai di Timur Tengah secara menyeluruh."

Yang terjadi kemudian, baik oleh Israel maupun Arab, Obama dikritik karena diam dalam agresi Israel ke Jalur Gaza, meski sejumlah kalangan dan orang-orang dekatnya mengutarakan Obama sebenarnya menempuh manuver-manuver bagi pengakhiran kekerasan di Gaza.

Memang sulit menjadi Obama, di luar negeri, dia dikritik keras karena diam di Gaza, sementara di dalam negeri dipojokkan sayap kanan dan lobi Yahudi karena bersikap lembut di Timur Tengah, bahkan dianggap akan membawa AS cenderung pro Arab.

Salah satu corong konservatif pro Israel, The American Thinker (20/1) menulis, Obama cenderung menyisihkan Israel, diantaranya tercermin dari dukungannya semasa menjadi senator kepada resolusi Senat yang melarang penggunaan bom curah yang justru dipakai Israel dalam menghadapi Hizbullah di Lebanon.

Majalah AS ini menyebut persetujuan Obama sebagai upaya melucuti (disarmamenisasi) Negara Yahudi.

The American Thinker dan media AS lain termasuk mingguan liberal The New Republic, mengkhawatirkan tim kebijakan luar negeri Obama akan menyudutkan Israel seraya menunjuk beberapa nama yang dinilainya tidak menyehatkan Israel; Zbigniew Bzrezinski, Anthony Lake, Susan Rice, Robert O. Malley dan Ivo Daalder.

Robert Malley misalnya, dianggap sering menulis artikel proPalestina, apalagi dia dekat dengan mantan penasehat almarhum Yasser Arafat, Hussein Agha, dan pernah menyebut Israel sebagai negara kolonial, satu ungkapan yang sangat berani di AS.

Mengenai Ivo Daalder, Harian Inggris Financial Times pernah mengutipkan kalimat yang diduga darinya, "Fakta sesungguhnya adalah tak seorang calon presiden yang dapat mengubah asumsi tentang Israel. Maka itu, strategi terbaik adalah memenangi Gedung Putih, setelah itu ubah asumsi itu."

Daalder, seperti halnya Obama, disebut The American Thinker sebagai memusuhi tokoh neokonservatif dan sahabat Israel, Richard Perle dan Paul Wolfowitz, karena menganggap kedua orang ini memanipulasi kekuasaan demi kepentingan Israel.

Jalan Baru

Obama memang tak boleh hanya dipuji, namun dalam soal memetakan kebijakan luar negeri, khususnya Timur Tengah, dia ternyata berani menawarkan sinyal kebijakan yang memperlihatkannya berbeda dari pendahulunya, termasuk dalam mendekati Arab dan dunia Islam.

"Kepada dunia muslim, kami mencari jalan ke depan baru berdasarkan kepentingan timbal balik dan saling menghormati," kata Obama dalam pidato pelantikannya sebagai orang kulit hitam pertama menjadi Presiden AS.

Obama melakukan hal yang bahkan mantan Presiden Bill Clinton yang pasifis pun tak menempuhnya, yaitu menyebut Iran dan Suriah mesti dilibatkan dalam pembicaraan Timur Tengah.

Jarang sekali KTT Arab yang diadakan setelah konflik dengan Israel, mengundang Iran (Presiden Mahmoud Ahmadinejad), tetapi pertemuan Arab mengenai Gaza beberapa hari lalu menunjukkan sebaliknya.

Seruan Obama tampak beresonansi dengan Arab yang sebelumnya kukuh menyebut urusan Arab hanya untuk Arab, sebuah frasa klasik yang ditujukan pada Turki dan Iran untuk jangan melibatkan diri dalam urusan Arab.

Lebih dari itu, mengutip Sunday Times (16/11), Obama tengah merancang rencana ambisius untuk Timur Tengah, yaitu penarikan mundur Israel dari seluruh wilayah Arab yang didudukinya pada Perang 1967.

Obama juga akan menghidupkan lagi Prakarsa Damai usulan Arab Saudi 2002 yang ternyata didukung Liga Arab dan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni yang sedang memimpin Partai Kadima yang berkuasa.

Lewat proposal itu, Suriah mendapatkan lagi Dataran Tinggi Golan dan Jerusalem Timur akan menjadi ibukota negara Palestina, sebaliknya Israel memperoleh pengakuan dari negara-negara Arab.

Tentu saja, proposal ini bakal menemui kendala, terutama dari kelompok garis keras Yahudi dan garis keras Arab.

Mitchell

Untuk mewujudkan tekad seriusnya mengatasi konflik Israel-Palestina, Obama segera menunjuk George J. Mitchell sebagai Utusan Khusus Timur Tengah yang dilihat was-was oleh garis keras Yahudi.

Terkenal sebagai pengupaya damai Irlandia Utara dan mantan ketua minoritas Senat, Mitchell (75) dianggap berpengalaman di Timur Tengah karena pernah ditunjuk Bill Clinton dalam penghentian kekerasan Israel-Palestina.

"Ini adalah sinyal luar biasa dari hasrat (Obama) untuk menciptakan perdamaian abadi Palestina-Israel dan dia mengetahui bakal menghadapi ganjalan banyaknya kesulitan yang dihadapi AS di Timur Tengah," kata Gregory Orfalea, pengajar sejarah Arab-Amerika di Universitas Georgetown seperti dikutip Reuters (21/9).

Tantangan pertama Mitchell sendiri adalah penyelesaian menyeluruh Krisis Gaza dimana tentara Israel sedang ditarik mundur setelah melancarkan ofensif 22 hari ke wilayah itu.

Israel boleh cemas karena Mitchell yang beribu Arab Lebanon ini pernah menyeru Israel menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan dan penghentian penembakkan para demonstran Palestina tak bersenjata.

Obama sendiri berharap, Mitchell yang di Irlandia Utara berhasil mendamaikan warga katolik dan protestan lewat Jumat Baik 1998 sehingga tercipta perdamaian relatif langgeng di Inggris, dapat menularkan sukses Irlandia Utara ke Palestina dan Timur Tengah.

Para pakar internasional memprediksi pemerintahan Obama pada mulanya melangkah hati-hati dengan memberi Mesir dan Eropa peran lebih luas dalam soal Gaza, namun begitu usai pemilu Israel 10 Februari 2009 Obama mulai berkiprah luas.

Beberapa pakar percaya, penunjukkan Mitchell adalah sinyal Obama serius menangani Gaza karena dia menyadari penyelesaian Timur Tengah adalah pintu menuju hubungan konstruktif dengan dunia Islam dan Arab seperti dipidatokannya Rabu dini hari tadi.

James Zogby, Presiden Arab American Institute, menilai penunjukkan Mitchell memperlihatkan tekad bulat Obama dalam memulihkan kepemimpinan AS pada perdamaian Timur Tengah.

"Ini adalah seorang presiden yang serius dalam soal Timur Tengah sejak hari pertama (memerintah). Penunjukkan ini mengirimkan pesan, 'saya siap menangani ini," kata Zogby.

Jelas

Peran Obama dalam soal Palestina-Israel ini tampaknya diharapkan dunia Arab muncul jelas, meskipun tidak semua Arab menginginkan demikian.

"Dia jangan hanya memihak Israel. Dia mesti faham, rakyat Palestina tak bisa dihukum karena pilihan yang diambilnya...saya sungguh percaya pada kemampuan Obama memimpin AS, tapi dalam soal ini, tidak akan ada perubahan," kata Mohammed al-Sharif, pekerja LSM Palestina seperti dikutip Aljazeera (21/1).

Sementara Rami Almeghrahi, wartawan Palestina di Gaza, menilai Obama harus memperhatikan warga Palestina sebagai korban paling menderita dalam agresi Israel.

"Obama mesti melihat akar masalah dari konflik Palestina-Israel dan membuka kembali negosiasi yang didasarkan pada legitimasi internasional dan mencari resolusi, apakah itu satu negara atau dua negara, sehingga konflik ini tuntas selamanya," kata Rami.

Mungkin berlebihan meletakan semua masalah internasional dan Timur Tengah di pundak Obama, namun menurut mantan Sekjen PBB Boutros-Boutros Ghali pada Mingguan Jerman Der Spiegel awal Januari, AS adalah kunci penyelesaian konflik Arab-Israel karena Amerikalah satu-satunya yang didengar Israel. Oleh karena itu, masuk akal jika Arab pun berharap pada Obama.

Editorial Jordan Times hari ini melukiskan harapan Arab ini dengan mengatakan Obama perlu mengadopsi pendekatan yang lebih adil dan tidak bias yang hanya menguntungkan Negara Yahudi.

"(Solusi) seimbang dan menghormati hukum internasional adalah satu-satunya yang perlu diperhatikan. Tidak terlalu banyak permintaan kami (hanya itu)," demikian Jordan Times dalam lamannya (*)

Oleh Oleh: Jafar M. Sidik
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009