Jakarta (ANTARA News) - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi bergerak turun, namun masih berkutet di atas angka Rp9.000 per dolar, karena pelaku pasar belum antusias masuk kepasar, meski bursa regional menguat.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar turun 10 poin menjadi Rp9.060-Rp9.070 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp9.050-Rp9.060.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib di Jakarta, mengatakan, rupiah memang berada dalam kisaran yang sempit antara Rp9.050 sampai Rp9.080 per dolar, karena pelaku pasar agak hati-hati untuk masuk lebih jauh.

Namun pelaku lebih cenderung melepas rupiah ketimbang membeli, setelah investor asing mengurangi investasi di Sertifikat Bank Indonesia (SBI), katanya.

Investasi asing di SBI, lanjut dia menurun setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan baru yaitu mewajibkan pemodal yang membeli SBI menahan minimal satu bulan.

Kepemilikan asing di SBI hingga 1 Juli 2010 mencapai Rp41,9 triliun turun dibanding dengan posisi Juni yang mencapai Rp44,4 triliun, katanya.

Pelaku pasar, menurut dia sedang memfokuskan perhatian terhadap suku bunga acuan (BI Rate) Bank Indonesia (BI) apa akan bergerak naik.

Apabila laju inflasi Juni tidak berbeda jauh dengan bulan sebelumnya kemungkinan BI Rate masih bertahan pada 6,5 persen, katanya.

Ia mengatakan, aksi pelaku pasar itu diperkirakan hanya sesaat saja, setelah melakukan penyesuaian dengan aturan baru BI maka mereka akan kembali bermain di pasar.

Bila BI menaikkan suku bunga SBI, maka lonjakan investasi di pasar SBI akan terlihat makin besar, meski saat ini cenderung turun, katanya.

Karena itu, lanjut dia rupiah masih berpeluang untuk menguat, karena kondisi makro Indonesia makin bagus dengan cadangan devisa yang terus meningkat.

"Kami optimistis peluang rupiah untuk naik cukup besar," ucapnya.
(h-CS/A024)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010