Sleman  (ANTARA News) - Labuhan Merapi yang merupakan upacara adat yang diadakan setiap 30 Rajab (kalender Jawa) akan kembali digelar Senin dan Selasa (12- 13 Juli).

"Rangkaian upacara adat ini akan dilangsungkan di rumah juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Marijan di dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan, Cangkringan, Kabupaten Sleman," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Untoro Budiharjo, Kamis.

Menurut dia, upacara Adat Labuhan Gunung Merapi merupakan rangkaian upacara yang dilaksanakan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam rangka peringatan jumenengan Ndalem (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diselenggarakan setiap 30 bulan Rejeb penanggalan Jawa.

"Berdasarkan legenda pelaksanaan labuhan Merapi berkaitan erat dengan latar belakang sejarah Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Megantoro yang semuanya penguasa di Gunung Merapi," katanya.

Prosesi Labuhan Gunung Merapi diawali pada Senin (12/7) pukul 09.00 WIB berupa "srah-srahan ubarampe" secara simbolis dari Kraton Ngayogyakarta oleh utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X kepada Camat Cangkringan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kepada juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo.

Pukul 15.00 WIB dilaksanakan Kirab Budaya oleh prajurit Gandungarum dari Kaliadem, Dusun Ngrangkah menuju rumah juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo dan pada malam harinya dilaksanakan kenduri wilujengan di rumah juru kunci dilanjutkan dengan macapatan oleh paguyuban Sekar Cangkring Manunggal.

"Kemudian Selasa (13/7) pukul 06.00 WIB dilakukan acara resmi Labuhan Merapi yang diawali kirab prajurit yang membawa `uba rampe` diiringi keluarga juru kunci, abdi dalem dan utusan Kraton dari rumah juru kunci menuju ke Kendit 2 dilanjutkan dengan doa-doa," katanya.

Ia mengatakan, upacara adat Labuhan Merapi merupakan kegiatan tahunan yang cukup besar dan telah melegenda serta telah menjadi "calender of event" yang tetap.

"Diperkirakan akan mendatangkan ribuan wisatawan domestik maupun manca negara yang akan melihat secara langsung ritual upacara adat yang masih kental kesakralannya di kalangan masyarakat umum," katanya.
(U.V001/Z003/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010