Harga minyak tergelincir, tertekan melonjaknya kasus COVID di India

Harga minyak tergelincir, tertekan melonjaknya kasus COVID di India

Ilustrasi - Ladang minyak Equinor di Johan Sverdrup, Laut Utara Norwegia (22/8/2018). REUTERS/Nerijus Adomaitis/aa.

Kedua harga acuan minyak turun sekitar 1,0 persen minggu lalu ketika infeksi COVID-19 India mulai mencapai rekor tertinggi
New York (ANTARA) - Harga minyak tergelincir pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena kekhawatiran permintaan yang dipicu oleh melonjaknya kembali kasus COVID-19 di India, yang dapat mengurangi permintaan bahan bakar di importir minyak terbesar ketiga di dunia itu.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni menetap 46 sen lebih rendah, turun 0,7 persen menjadi 65,65 dolar AS per barel, setelah diperdagangkan di terendah sesi pada 64,57 dolar AS.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni berakhir melemah 23 sen atau 0,4 persen, menjadi 61,91 dolar AS per barel, setelah menyentuh terendah sesi di 60,66 dolar AS.

"Pasar waspada, kembali dari kekhawatiran permintaan India di tengah laporan bahwa komite teknis OPEC mengakui potensi ancaman permintaan dari situasi di India," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago.

Baca juga: Minyak naik tipis, dukungan pemulihan diimbangi gelombang virus Asia

Komite teknis bersama OPEC+ (JTC) telah mempertahankan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini, tetapi khawatir tentang lonjakan kasus COVID-19 di India dan di tempat lain, tiga sumber dari kelompok produsen mengatakan kepada Reuters.

OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, akan membahas kebijakan produksi pada pertemuan minggu ini.

Kelompok tersebut sepakat pada pertemuan di awal April untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350.000 barel per hari pada Mei, 350.000 barel per hari pada Juni dan lebih lanjut 400.000 barel per hari pada Juli.

Kedua harga acuan minyak turun sekitar 1,0 persen minggu lalu ketika infeksi COVID-19 India mulai mencapai rekor tertinggi.

India telah memerintahkan angkatan bersenjatanya untuk membantu mengatasi lonjakan infeksi baru virus corona yang membanjiri rumah sakit, dengan negara-negara termasuk Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat berjanji untuk mengirim bantuan medis segera.

Konsultan FGE memperkirakan permintaan bensin di India turun 100.000 barel per hari pada April dan lebih dari 170.000 barel per hari pada Mei. Total penjualan bensin India mencapai hampir 747.000 barel per hari pada Maret.

Permintaan solar, yang sekitar 1,75 juta barel per hari menyumbang sekitar 40 persen dari penjualan bahan bakar olahan di India, mungkin merosot 220.000 barel per hari pada April dan 400.000 barel per hari pada Mei, kata FGE.

Di Jepang, keadaan darurat ketiga di Tokyo, Osaka dan dua prefektur lainnya dimulai pada Minggu (25/4/2021), mempengaruhi hampir seperempat populasi ketika negara tersebut berusaha memerangi lonjakan baru kasus COVID-19.

Pasar juga terdorong lebih rendah oleh kekhawatiran berlebihnya pasokan karena berakhirnya keadaan kahar pada ekspor dari terminal Libya dan peningkatan pasokan yang diharapkan dari OPEC + menambah tekanan.

Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) mengatakan telah mencabut keadaan force majeure di pelabuhan Hariga setelah menyelesaikan perselisihan mengenai anggarannya dengan pemerintah baru.

Produksi minyak Libya turun pekan lalu dari 1,3 juta barel per hari menjadi sekitar satu juta barel per hari setelah NOC mengumumkan keadaan force majeure.

Baca juga: Emas terdongkrak 2,3 dolar jelang pertemuan Fed
Baca juga: Minyak naik tipis, produksi Libya turun imbangi risiko permintaan

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar