Terjaganya satwa liar, indikator keberhasilan pembangunan di Indonesia

Terjaganya satwa liar, indikator keberhasilan pembangunan di Indonesia

Siti dan Sudin, dua anak orangutan yang berhasil diselamatkan dari upaya penyelundupan di Bakahueni oleh tim aparat gabungan dirawat sementara di lokasi transit Pusat Penyelamatan Satwa Lampung, Sumatran Wildlife Center (SWC JAAN) Lampung, Lampung, Senin (3/5/2021). (ANTARA/HO-KLHK)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan keberadaan satwa liar seperti orangutan sangat penting sebagai indikator keberhasilan pembangunan di Indonesia.

"Terjaganya satwa-satwa dalam habitatnya menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di Indonesia, ini yang kita jaga," kata Siti dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Senin.

Siti bersama Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno yang mendatangi Kantor Kepolisian Resor Lampung Selatan guna mengapresiasi kinerja tim aparat gabungan yang berhasil menggagalkan penyelundupan dua anak orangutan di Bakaheuni pada 26 April lalu meminta agar ada penelusuran asal muasal kedua satwa liar dilindungi itu.

Hal tersebut, menurut dia, agar dapat segera menentukan di wilayah mana mereka akan menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Terdapat dua pusat rehabilitasi orangutan sumatera yaitu di provinsi Sumatera Utara dan Jambi.

Baca juga: BBKSDA Sumut terima dua orangutan sumatera dari Jawa Tengah

Baca juga: Orangutan yang dipulangkan dari Malaysia masih jalani rehabilitasi


"Orangutan merupakan salah satu mamalia besar di dunia selain gajah, badak dan harimau yang hidup di Indonesia, ditambah komodo dan anoa. Kita menyebutnya sebagai Flagship Species. Pada dasarnya terdapat 25 spesies prioritas yang kita perhatikan, termasuk bagaimana caranya agar populasinya di alam dapat kita tingkatkan," kata Siti.

Menteri Siti kemudian menjelaskan bahwa keberadaan satwa seperti orangutan dan sebagainya, sangat penting sebagai indikator keberhasilan pembangunan di Indonesia.

Sementara itu, Wiratno mengatakan orangutan sebenarnya adalah satwa yang dapat merehabilitasi hutan, jangkauan jelajah orangutan adalah seluas lima kilometer persegi (km2). Sepanjang jelajahnya tersebut, orangutan memakan buah-buahan dan biji yang dibuangnya dapat menumbuhkan pohon baru.

"Orangutan itu satwa kebanggaan kita. Kejahatan perdagangan satwa liar sangat memprihatinkan. Kita akan terus menguatkan kerja sama dengan kepolisian dan pihak-pihak lain untuk memberantas kejahatan luar biasa ini," kata Wiratno.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal KSDAE, selama periode Maret-April tahun 2021, telah terdapat setidaknya empat kasus terkait perdagangan dan kepemilikan ilegal satwa orangutan. Dalam kurun waktu dua bulan tersebut, telah dilakukan penyelamatan terhadap enam individu orangutan yang usianya berkisar 1-4 tahun (anakan).*

Baca juga: 11 orangutan sumatera dipulangkan ke Indonesia

Baca juga: KLHK lepasliarkan 26 orangutan selama 2020


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ditreskrimsus Polda Riau gagalkan upaya jual beli sisik trenggiling

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar