Harapan permintaan angkat harga minyak, Brent naik 1,2 persen

Harapan permintaan angkat harga minyak, Brent naik 1,2 persen

Dokumentasi - Kapal tanker bersandar pengilangan minyak, Bayonne, New Jersey, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucas Jackson/aa.)

Bahkan ketika kasus COVID-19 mencapai rekor tertinggi minggu ini, harga minyak telah bergerak lebih tinggi karena meningkatnya jumlah vaksinasi di pasar negara-negara maju
New York (ANTARA) - Harga minyak naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika angka ekonomi China dan tingkat vaksinasi di Amerika Serikat menunjukkan rebound yang kuat mengangkat harapan permintaan yang lebih besar di dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei terkerek 80 sen atau 1,2 persen, menjadi ditutup pada 67,56 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Juni bertambah 91 sen atau 1,4 persen, menjadi menetap di 64,49 dolar AS per barel.

Namun, investor tetap waspada, atas tingkat infeksi yang memecahkan rekor di India, importir bahan bakar terbesar ketiga di dunia, bersama dengan pasokan minyak OPEC+ yang lebih tinggi.

Amerika Serikat dan China, dua konsumen minyak teratas dunia, diharapkan dapat mendorong pemulihan permintaan dari pandemi virus corona.

"Bahkan ketika kasus COVID-19 mencapai rekor tertinggi minggu ini, harga minyak telah bergerak lebih tinggi karena meningkatnya jumlah vaksinasi di pasar negara-negara maju," kata laporan BofA Global Research. “Data terbaru menunjukkan keefektifan tinggi vaksin dalam mencegah infeksi dan kematian.”

Sekitar sepertiga dari penduduk AS telah divaksinasi penuh, pelacak virus corona Reuters menunjukkan.

Sementara itu, impor minyak mentah China mencatat rekor musiman rata-rata di Februari dan Maret dari peningkatan penjualan mobil, pemulihan perjalanan lokal dan latar belakang industri yang kuat, kata BofA Global Research.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,37 persen menjadi 90,9487 pada akhir perdagangan Senin (3/5). Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

Namun, beberapa bagian dunia seperti India mengalami peningkatan kasus virus corona. India pada Senin (3/5) melaporkan lebih dari 300.000 kasus baru virus corona selama 12 hari berturut-turut. Gelombang baru virus telah menyebabkan penurunan penjualan bahan bakar pada April.

"Kegelisahan India saat ini menghentikan harga minyak dari kenaikan lebih lanjut," kata analis Rystad Energy Louise Dickson.

Brent telah menguat hampir 30 persen tahun ini, pulih dari posisi terendah bersejarah tahun lalu berkat rekor pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama dikenal sebagai OPEC+.

Namun, OPEC+ minggu lalu memutuskan tetap berpegang pada rencana untuk meningkatkan pasokan sedikit mulai 1 Mei dan produksi OPEC naik pada April, dipimpin oleh dorongan dari Iran, survei Reuters menemukan.

Teheran dan kekuatan-kekuatan dunia sedang mengadakan pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang dapat menambah pasokan minyak global jika kesepakatan tercapai. Kepala negosiator nuklir Iran pada Sabtu (1/5) mengatakan bahwa Teheran mengharapkan sanksi AS terhadap minyak, bank, dan sebagian besar individu serta institusi akan dicabut.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar