Tanjungpinang (ANTARA News) - Jemaat Ahmadiyah merasa nyaman tinggal di Provinsi Kepulauan Riau, karena mereka dapat diterima masyarakat.

Mantan pemimpin Ahmadiyah di Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan) M Nasrun, yang saat ini menjadi Mubaligh Ahmadiyah di Batam, Kamis, mengatakan, hubungan sosial antara pengikut Ahmadiyah dengan masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) berlangsung baik.

"Belum pernah ada konflik antara jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat. Masyarakat Kepri menghargai kebebasan beragama," ujar Nasrun yang dihubungi dari Tanjungpinang.

Dia mengatakan, pusat pengajaran Ahmadiyah berada di Batam, dengan jumlah jemaat mencapai 65 orang. Sementara jemaat Ahmadiyah di Pulau Bintan sebanyak 75 orang, namun beberapa diantanya sudah tidak aktif.

Sedangkan di Kabupaten Karimun dan Lingga hanya satu keluarga menjadi pengikut Ahmadiyah.

"Kami membaur dengan masyarakat lainnya, tanpa membeda-bedakan agama dan kepercayaan," ungkapnya.

Nasrun meyakini hubungan antara jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat Kepri tetap harmonis, karena seluruh agama mengajarkan umatnya untuk hidup secara damai dan saling membantu.

"Kalau ada konflik, bukan bukan disebabkan hubungan antara jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat retak, melainkan karena ada kelompok penghasut yang tidak senang dengan Ahmadiyah," katanya.

Menurut dia, kehadiran Ahmadiyah hanya tidak disukai kelompok tertentu, yang diduga selalu memprovokasi masyarakat untuk membenci ajaran itu. Namun dia berharap hal itu tidak terjadi di Kepri.

Masyarakat di beberapa daerah, di luar Kepri, yang sebelumnya memiliki hubungan yang baik dengan Ahmadiyah dihasut oleh kelompok tertentu untuk mengusik ajaran itu. Ahmadiyah hanya mencoba bertahan, dan berupaya tidak terjadi aksi kekerasan.

Dia mengimbau pemerintah untuk memperhatikan permasalahan itu sehingga aksi kekerasan dapat dihindari. Ahmadiyah telah menyesuaikan aktivitasnya dengan melasanakan keputusan tiga menteri.

"Kami diajarkan untuk hidup damai, tanpa kekerasan. Ahmadiyah sangat membenci kekerasan," katanya.
(ANT/A024)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010