Olimpiade

Petisi tolak Olimpiade diajukan ke pemerintah Tokyo

Petisi tolak Olimpiade diajukan ke pemerintah Tokyo

Orang-orang memprotes penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di sekitar Stadion Olimpiade (Stadion Nasional) saat acara uji coba atletik Olimpiade diadakan di dalam venue di Tokyo, Jepang, Minggu (9/5/2021), foto ini diambil oleh Kyodo. ANTARA FOTO/Kyodo/via REUTERS/AWW/sa.

IOC memiliki hak untuk membuat keputusan apakah akan membatalkan, tetapi Tokyo, sebagai kota tuan rumah, harus mendesak IOC untuk membatalkan
Jakarta (ANTARA) - Petisi untuk membatakan Olimpiade Tokyo dari lebih dari 351.000 tanda tangan telah diserahkan kepada gubernur Tokyo.

Pembuat petisi mendesak para pejabat untuk "memprioritaskan kehidupan," AFP melaporkan, Jumat.

Petisi online berjudul "Batalkan Olimpiade Tokyo untuk melindungi hidup kita" itu dibuat awal bulan ini oleh Kenji Utsunomiya, seorang pengacara dan mantan calon gubernur Tokyo.

Baca juga: IOC yakin Olimpiade Tokyo akan sukses meski ditentang publik

Petisi tersebut telah mengumpulkan tanda tangan lebih cepat daripada petisi sebelumnya di platform Change.org di Jepang, yang menurut Utsunomiya "mencerminkan opini publik" tentang masalah tersebut.

Survei secara konsisten menunjukkan mayoritas warga Jepang menentang penyelenggaraan Olimpiade tahun ini, dan mendukung penundaan lebih lanjut atau pembatalan karena pandemi virus corona.

"Saya pikir Olimpiade kali ini adalah tentang apakah kita memprioritaskan kehidupan atau upacara dan acara yang disebut Olimpiade," kata Utsunomiya.

Dia meminta Gubernur Tokyo Yuriko Koike untuk meminta Komite Olimpiade Internasional (IOC) membatalkan Olimpiade.

"IOC memiliki hak untuk membuat keputusan apakah akan membatalkan, tetapi Tokyo, sebagai kota tuan rumah, harus mendesak IOC untuk membatalkan," kata Utsunomiya

Petisi tersebut juga dikirim ke IOC dan Komite Paralimpiade Internasional serta penyelenggara lokal dan pemerintah nasional.

Petisi itu diajukan saat Jepang memerangi gelombang keempat infeksi virus corona, dengan Tokyo dan lima prefektur lainnya dalam keadaan darurat.

Jepang memperluas keadaan darurat ke tiga wilayah lainnya, termasuk Hokkaido utara di mana marathon Olimpiade akan berlangsung.

Utsunomiya memperingatkan bahwa "menyelenggarakan Olimpiade dalam keadaan seperti ini berarti sumber daya medis yang berharga harus disisihkan untuk Olimpiade."

Baca juga: Sejumlah gubernur di Jepang tolak alokasikan RS untuk atlet Olimpiade

Persatuan dokter, Kamis (13/5), memperingatkan bahwa "tidak mungkin" mengadakan Olimpiade dengan aman selama pandemi, tetapi penyelenggara mengatakan tindakan pencegahan penyebaran virus akan menjaga para atlet dan publik Jepang tetap aman.

Utsunomiya mengatakan petisi tersebut akan terus mengumpulkan tanda tangan "sampai pembatalan diumumkan," dan mengesampingkan kekhawatiran tentang biaya membatalkan acara besar-besaran itu.

"Kehidupan orang lebih penting daripada uang," kata Utsunomiya.

Dalam beberapa hari terakhir, penyelenggara telah mengadakan serangkaian acara uji coba yang sukses, termasuk di dalamnya bersama atlet internasional, yang menurut mereka menunjukkan protokol mereka akan berhasil.

Namun, pihak yang tidak setuju tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang, dan beberapa bintang olahraga Jepang telah menyatakan keprihatinannya dalam beberapa hari terakhir, termasuk petenis Naomi Osaka dan pemenang kejuaraan golf Turnamen Master 2021, Hideki Matsuyama.

Baca juga: 31 kota tuan rumah Olimpiade Tokyo batal sambut atlet luar negeri
Baca juga: 280 dokter olahraga melamar jadi relawan Olimpiade Tokyo
Baca juga: Nishikori-Osaka buka suara soal keraguan pelaksanaan Olimpiade Tokyo

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

PBSIĀ gelar pertandingan simulasi Olimpiade Tokyo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar