Jakarta (ANTARA News) - Pengamat pasar uang, Farial Anwar mengatakan, rupiah tertekan karena menguatnya dolar AS terhadap mata uang utama Asia termasuk euro hanya untuk sementara saja kalau melihat minat investasi asing di dalam negeri dalam jangka panjang.

Pelaku asing akan tetap menempatkan dananya di pasar domestik, karena Indonesia masih merupakan pasar yang lebih menarik dari pasar Asia lainnya, kata Farial Anwar di Jakarta, Rabu.

Farial Anwar yang juga Direktur Currency Management Group mengatakan, pelaku asing saat ini memang mengurangi kegiatannya, mereka masih berdiam diri menunggu perkembangan pasar lebih lanjut.

Namun mereka tetap berkeinginan untuk melakukan investasi di pasar Indonesaia dalam jangka panjang, ucapnya.

Menurut dia, pelaku asing kemungkinan akan sulit mencari pasar baru yang lebih baik dibanding Indonesia, mereka bisa menempatkan dananya di instrumen Bank Indonesia seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN) dan membeli saham.

Pelaku asing memperoleh bunga yang tinggi dari SBI dan lebih tinggi lagi di SUN, kemudian menukar dolarnya dengan rupiah untukmembeli saham, karena keuntungan yang mereka peroleh dua kali di pasar uang maupun pasar saham, katanya.

Karena itu, lanjut dia, peluang rupiah untuk menguat masih besar bahkan akan bisa jauh dibawah Rp9.000 per dolar.

"Kami optimis rupiah akan kembali menguat, karena faktor positif masih besar mendukung pergerakannya, " katanya.

Ditanya apakah rupiah bisa mencapai Rp9.000 per dolar, menurut Farial Anwar bisa saja, apabila aksi profittaking terus terjadi di pasar saham yang akhirnya mengimbas pasar uang khususnya rupiah.

Namun aksi profittaking (ambil untung) diperkirakan tidak akan berlangsung lama, karena berbagai kekhawatiran yang terjadi mulai berkurang, ucapnya.

Megenai pasar negatif terhadap rupiah berkaitan dengan pernyataan menkeu, ia mengatakan, menkeu sebaik harus hati-hati dalam menyampaikan statementnya agar tidak menimbulkan sentimen negatif pasar.

Karena rupiah yang menguat akan banyak menimbulkan keuntungan bagi barang impor akan lebih murah, biaya pergi juga turun, selain itu subsidi pemerintah terhadap harga bahar bakar minyak (BBM) akan lebih murah.

Penguatan rupiah juga tidak mengurangi keuntungan yang diperoleh eksportir. Jadi bukan alasan penguatan rupiah membuat pendapatan eksportir berkurang, tuturnya.

Ia mengatakan, eksportir selalu mengatakan merugi apabila rupiah menguat, padahal mereka tetap meraih keuntungan meski agak berkurang.
(H-cs/A024)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010