Laporan dari Kuala Lumpur

Oposisi minta vaksinasi ditingkatkan karena COVID-19 di Malaysia naik

Oposisi minta vaksinasi ditingkatkan karena COVID-19 di Malaysia naik

Mobil melintas di depan bangunan kuno Gedung Sultan Abdul Samad di Jalan Raja Laut depan Dataran (Lapangan Merdeka) pada hari pertama Idul Fitri 1442 H di Kuala Lumpur, Kamis (13/5/2021). Warga memanfaatkan berfoto di depan gedung tersebut di tengah-tengah penerapan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) untuk membendung penyebaran COVID-19. ANTARA Foto/Agus Setiawan

Kadar ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak melakukan tes yang mencukupi
Kuala Lumpur (ANTARA) - Anggota parlemen kubu oposisi Pakatan Harapan (PH) meminta Komite Vaksinasi COVID-19, Kementerian Kesehatan dan Komite Khusus Jaminan Akses Pasokan Vaksin COVID-19 (JKJAV) meningkatkan vaksinasi serta tes karena penularan di Malaysia meningkat.

Pernyataan tersebut disampaikan Dr Dzulkefly Ahmad (Kuala Selangor), Dr Lee Boon Chye (Gopeng), Dr Kelvin Yii (Bandar Kuching), Dr Mohd Hatta Ramli (Lumut) Sim Tze Tzin (Bayan Baru), Dr Ong Kian Ming (Bangi ), Dr Siti Mariah Mahmud (Exco Kesehatan Selangor), Dr Norlela Ariffin (Exco Kesihatan Pulau Pinang) dan Veerapan Supramaniam (Exco Kesihatan Negeri Sembilan) di Kuala Lumpur, Senin.

Penularan harian COVID-19 di Malaysia pada Senin  telah mencapai 4.446 kasus.

Baca juga: Malaysia kembali berlakukan penguncian nasional
Baca juga: Dua masjid di Kuala Lumpur ditutup beresiko tularkan COVID-19


Berdasarkan statistik terdapat penurunan yang mendadak dalam tes deteksi COVID-19 di seluruh negara pada Hari Pertama Idul Fitri yaitu dari 87.458 sehari sebelumnya menjadi 83.974 orang yang dites pada Hari Pertama (13/5), dan penurunan selanjutnya kepada 56,440 orang pada Hari Kedua (14/5) dan 47.480 pada Hari Ketiga (15/5).

"Kadar positif pada hari pertama adalah 5.78 persen dan meningkat pada Hari Kedua jadi 7.32 persen dan 8.72 persen pada Hari Ketiga yang telah melewati batas WHO yaitu pada kadar lima persen," katanya..

Secara rata-rata kadar positif Malaysia dari (10/5) - (15/5) adalah pada 6.83 persen yang masih lebih tinggi dari WHO.

"Kadar ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak melakukan tes yang mencukupi, yang juga menyiratkan bahwa jumlah kasus harian mungkin tidak jelas menggambarkan beban penyakit sebenarnya di negara kita," katanya.

Mereka berpendapat kecenderungan seperti ini bukanlah perkara baru dan diperhatikan sejak beberapa Minggu belakangan ini dan tes yang tidak mencukupi telah menyebabkan lonjakan kasus COVID-19 di seluruh negara.

"Pada waktu yang sama unit ICU COVID-19 berkapasitas penuh atau hampir di seluruh Lembah Klang, Kelantan, Sarawak, Johor, dan Pulau Pinang, dan menyumbang kepada jumlah kematian yang tinggi sejak beberapa hari lalu," katanya.

Baca juga: Malaysia laporkan kematian harian tertinggi COVID-19
Baca juga: KJRI Kuching imbau PMI patuhi aturan "lockdown" pemerintah Malaysia

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

WNI terdampak lockdown di Malaysia dapat bantuan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar