Jakarta (ANTARA News) - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (PT SMART Tbk) membantah tudingan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Greenpeace bahwa pihaknya telah melakukan penyesatan informasi atas laporan verifikasi independen terkait dengan perusahaan tersebut.

"Keseluruhan laporan IVEX (Independent Verification Exercise Team) telah diumumkan secara terbuka, sehingga tidak memungkinkan adanya ruang untuk penyesatan para pemangku kepentingan kami," kata Direktur Utama SMART, Daud Dharsono, dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA News di Jakarta, Jumat.

Menurut Daud, laporan IVEX telah disebarluaskan oleh pihaknya secara terbuka dan juga transparan.

Laporan IVEX itu disusun oleh Control Union Certification (CUC) dan BSI Group, yang keduanya merupakan badan sertifikasi terkemuka di dunia, dan dibantu oleh tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Laporan tersebut mengidentifikasi bahwa lebih dari 98 persen areal konsesi SMART tidak ditanam di atas lahan gambut dalam atau dengan kedalaman lebih dari tiga meter.

SMART menyatakan, penanaman di atas lahan gambut dalam beberapa kasus bersifat insidentil dan disebabkan sukarnya mengidentifikasi lahan gambut dengan luasan yang kecil dan tersebar (sporadis).

"Saat ini perseroan telah mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan termasuk memulihkan lahan yang dimaksud," kata Daud.

Lebih jauh lagi, lanjutnya, sebagai bagian dari prosedur operasional standar SMART, pihaknya telah berkomitmen untuk tidak melakukan pengembangan di atas lahan gambut manapun.

Sebelumnya, Greenpeace menyatakan bahwa hasil audit IVEX sesuai dengan temuan LSM lingkungan itu terkait dengan praktek operasionalisasi SMART.

"Audit secara umum membenarkan temuan-temuan Greenpeace dan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah membabat hutan dan lahan gambut," kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar.

Menurut Bustar, telah terjadi pemutarbalikkan fakta oleh perusahaan tersebut sebagai upaya untuk melindungi diri dan tidak berbuat apa-apa.

Contoh dari pemutarbalikkan tersebut, jelasnya, antara lain mengenai penyebutan manajemen air dan lahan yang terdagradasi untuk menutupi pengrusakan terhadap lahan gambut dan hutan.

Greenpeace antara 2007 sampai Juli 2010 telah merilis beberapa laporan yang membeberkan dampak operasi divisi pulp dan kertas serta kelapa sawit dari kelompok perusahaan tersebut terhadap iklim, hutan, gambut, serta habitat harimau dan orangutan.
(T.M040/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010