Anies: Media bisa bantu ungkap fitnah gratifikasi rumah mewah

Anies: Media bisa bantu ungkap fitnah gratifikasi rumah mewah

Dokumentasi - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan keterangan kepada wartawan saat tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww/aa.

silahkan dicari saja itu rumah di Kebayoran Baru yang dituduhkan di mana alamatnya, nomor berapa, siapa yang punya
Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta kepada media massa agar bisa membantu menginvestigasi untuk mengungkap pelaku yang telah memfitnahnya terkait isu gratifikasi rumah mewah dari pengembang pulau reklamasi.

"Dalam hal ini, media bisa bantu investigasi, silahkan dicari saja itu rumah di Kebayoran Baru yang dituduhkan di mana alamatnya, nomor berapa, siapa yang punya,” kata Anies melalui keterangan tertulis kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Wakil Ketua DPRD doakan penyebar gratifikasi Anies sadar spiritual

Anies mengatakan media harus memverifikasi sesuatu isu agar cukup bukti untuk dijadikan berita, jangan hanya asal menulis terhadap seluruh tuduhan seseorang.

Lebih lanjut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu menuturkan pihak yang telah menuduh dirinya menerima gratifikasi rumah mewah itu harus mempertanggungjawabkan tuduhan dan menunjukkan bukti.

Baca juga: Anies: Buktikan isu gratifikasi rumah mewah dari pengembang reklamasi

“Dari dulu prinsipnya simpel: penuduh harus tunjukkan bukti. Kalau ada isu seperti ini, ya temen-temen jurnalis jangan tanya ke saya, tapi tanya saja ke penuduh lalu kejar buktinya,” tutur Gubernur Anies.

Bahkan Anies menegaskan media massa dapat memaksa dan mengejar orang yang menuduh itu untuk membawa bukti gratifikasi rumah mewah tersebut.

Baca juga: KPK terima 86 laporan penerimaan gratifikasi Hari Raya Idul Fitri

“Silahkan dicari saja itu rumah Kebayoran Baru yang dituduhkan di mana alamatnya, nomor berapa, siapa yang punya,” paparnya.

Anies menilai hal menarik apabila media massa kritis untuk menuliskan pihak yang me-"retweet" atau menyitir dan mencari sejak kapan isu liar itu dihembuskan.

"Ini akan menarik agar publik mengetahui siapa terlibat dan bagaimana sebuah kebohongan digaungkan secara kolektif, terang-terangan, dan ramai sekali seakan-akan itu fakta,” ucap Gubernur DKI itu.

Pewarta: Taufik Ridwan
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar