Sukoharjo (ANTARA News) - Analis Madia Senior Bank Indonesia (BI), M. Emil Akbar, menyatakan bahwa para pemalsu uang rupiah menyukai mencetak pecahan bernilai Rp50.000 dan Rp100.000, sedangkan di luar negeri cenderung mencetak uang palsu pecahan kecil.

"Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2010, uang palsu yang ditemukan biasanya berupa pecahan Rp50.000 dan Rp100.000. Perkembangannya dari tahun ke tahun relatif sama," katanya usai melakukan pemeriksaan kasus uang palsu di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, di Markas Kepolisian Resor Sukoharjo, di Sukoharjo Selasa.

Meskipun jumlah uang palsu yang beredar relatif kecil, katanya, Bank Indonesia serius menyikapinya.

Ia menyebutkan, terdapat tujuh lembar uang palsu dari setiap satu juta lembar uang asli yang beredar di masyarakat saat ini.

"Sekarang ini banyak terjadi aksi pemalsuan uang karena makin meningkatnya kebutuhan uang di masyarakat, seperti menjelang Lebaran. Mereka nekat mencetak uang palsu," katanya.

Dia mengimbau, selain berhati-hati saat melakukan transaksi dengan uang tunai, pihaknya menyarankan masyarakat dalam menukarkan uang menjelang Lebaran melalui tempat resmi, misalnya langsung melalui bank.

"Kalau melalui orang yang di jalanan seperti yang sedang marak menjelang Lebaran, ada potensi disalahgunakan dengan diselipi uang palsu," katanya.

Selain itu, katanya, uang yang diterima kembali oleh penukar jumlahnya juga lebih sedikit dengan yang ditukarkan.

Biasanya, katanya, selisihnya Rp5.000 hingga Rp10.000 sebagai imbalan jasa penukaran.

"Selain secara umum riskan akan mendapat selipan uang palsu dan juga merugikan diri sendiri karena nominal yang ditukarkan lebih kecil, juga tidak ada jaminan yang bisa langsung diganti apabila terdapat uang yang palsu seperti apabila dilakukan dengan pihak bank," kata dia.

Ia mengatakan, langkah tersebut sebagai salah satu antisipasi agar tidak mendapatkan uang palsu, apalagi kebutuhan uang menjelang Lebaran seperti sekarang ini meningkat.
(U.ANT-198/M029/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010