Jakarta (ANTARA News) - Berdasarkan survei, 38 persen pekerja profesional di Jakarta memilih mencari pekerjaan yang memiliki kantor "virtual" atau dekat dengan tempat tinggalnya karena tidak tahan dengan kemacetan di jalan tiap harinya.

"Kemacetan lalu lintas yang parah di Jakarta bersama perjalanan pulang-pergi yang panjang dari rumah ke kantor, membuat para pekerja di Indonesia lebih tertarik untuk bekerja pada perusahaan yang lokasinya fleksibel," papar Vice President Regus William Willems untuk wilayah Asia Tenggara, Australia dan New Zealand ketika merilis hasil surveinya di Jakarta, Selasa.

Regus yang merupakan perusahaan internasional penyedia tempat kerja yang inovatif melakukan survei terhadap sekitar sejuta pekerja di Jakarta pertengahan tahun lalu dan juga mendapati 64 persen pekerja juga menginginkan untuk mencari pekerjaan baru yang memiliki tawaran gaji serta dana pensiun yang lebih menarik.

Sementara itu, stres yang disebabkan oleh lamanya waktu untuk menempuh jarak pulang-pergi rumah dan kantor karena kemacetan merupakan penyebab utama pekerja yang ingin mencari pekerjaan baru yang memiliki kantor fleksibel atau virtual dimana pekerjaan bisa diselesaikan dari rumah.

William Willems mengatakan para pekerja profesional itu akan berlomba untuk dapat bekerja di perusahaan yang mampu menyediakan fasilitas kerja ideal serta memenuhi kebutuhan karyawan akan kenyamanan kerja.

"Salah satu kebutuhan utama mereka adalah untuk dapat pulang-pergi kerja secara nyaman. Stres yang ditimbulkan oleh kondisi tempat kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan serta jarak pulang-pergi yang jauh dapat menyebabkan para pekerja ingin mencari pekerjaan baru," jelasnya.

Dari survei yang dilakukan ditemukan 20 persen pekerja Jakarta tiap hari menempuh jarak pulang-pergi ketempat kerja lebih dari satu jam, rata-rata menempuh perjalanan selama 90 menit, padahal jarak perjalanan mereka seharusnya dapat ditempuh dalam jangka waktu 25 menit saja.

Hal itu antara lain karena 64 persen pekerja yang disurvei menggunakan kendaraan pribadi yang menjadi langganan terjebak kemacetan Jakarta yang diperparah dengan pembangunan infrastruktur jalan yang sangat tidak memadai, tidak bisa mengikuti pertumbuhan jumlah kendaraan.

"Meskipun masalah kemacetan lalu lintas terjadi di hampir semua negara berkembang, namun di Indonesia pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang dilakukan hanya kurang dari 1 persen antara 2008 hingga 2009," kata Willems.

Oleh karena itu, tidak heran jika para pekerja menghabiskan jumlah yang cukup besar dari gaji mereka untuk biaya perjalanan.

"Rata-rata para pekerja menghabiskan 10 persen atau lebih dari gaji mereka untuk biaya perjalanan kerja," kata Willems.

Kantor virtual dimana pekerja berhubungan dengan atasan dan rekan kerja mereka menggunakan saluran komunikasi semisal telepon atau internet kemudian disebut sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kondisi tersebut, dimana hal itu juga sekaligus dapat menjadi efisiensi tempat dan biaya bagi perusahaan tempatnya bekerja.

Peneilitian medis juga mengindikasikan stres yang ditimbulkan perjalanan pulang-pergi yang terlalu lama dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti peningkatan tekanan darah, gangguan tulang belakang (arthritis), menimbulkan emosi bermusuhan pada orang sekitar, serta efek merugikan pada kemampuan kognitif manusia.

(A043/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010