Jepang akui sulit membaca strategi militer China

Jepang akui sulit membaca strategi militer China

Dokumentasi - Rudal mutakhir China DF-41ditampilkan perdana pada Parade Militer Hari Nasional di Beijing, Selasa (1/10/2019). ANTARA/HO-Lingzhi GT/am.

Brussels (ANTARA) - Jepang menuding tujuan militer China tidak jelas dan ekspansi cepat angkatan bersenjatanya perlu menjadi perhatian serius --keadaan yang mengharuskan Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia lainnya bersatu untuk melawan Beijing.

"China telah meningkatkan kapasitas militernya dengan sangat cepat dan kami tidak yakin apa niat China," kata Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi kepada subkomite keamanan dan pertahanan Parlemen Eropa.

"Dan kami sangat prihatin dengan ini," kata dia melalui tautan video, Kamis.

Para pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada Senin (14/6) mengatakan untuk pertama kalinya bahwa kebangkitan China menghadirkan "tantangan sistemik". Perjalanan delapan hari Presiden AS Joe Biden ke Eropa berfokus pada menggalang dukungan untuk strategi Amerika guna menahan kekuatan China yang meningkat.

Kantor misi China untuk Uni Eropa (EU) menegur NATO dan mengatakan pihaknya "berkomitmen pada kebijakan pertahanan yang bersifat defensif."

Kishi mengatakan kepada anggota parlemen EU bahwa rudal balistik China serta keputusan Beijing untuk meningkatkan anggaran pertahanannya menjadi empat kali lipat dari Jepang dan militerisasi pulau-pulau di Laut China Selatan perlu "diamati dengan waspada" untuk "menjaga perdamaian."

"Mereka memperluas anggaran pertahanan nasional mereka secara besar-besaran. “Masyarakat internasional harus bangkit dengan satu suara untuk mendekati China," kata dia.

Kishi juga meminta China untuk menjelaskan mengapa negara itu mengembangkan angkatan udaranya dengan cepat, yang sekarang terbesar ketiga di dunia, menurut data Departemen Pertahanan AS.

China memiliki angkatan laut terbesar di dunia, dengan jumlah kapal perang dan kapal selam yang lebih banyak daripada AS --kekuatan militer terkemuka di dunia, menurut data AS berdasarkan perkembangan pada 2019.

China juga memiliki lebih dari 1.250 rudal balistik yang diluncurkan dari darat serta rudal jelajah yang juga diluncurkan dari darat dengan jangkauan antara 500 kilometer dan 5.500 kilometer, jangkauan yang lebih jauh dari AS.

Sementara itu menurut data AS, Washington tidak memiliki rudal jelajah yang diluncurkan dari darat.


Sumber: Reuters

Baca juga: China desak NATO untuk berhenti besar-besarkan "teori ancaman China"
​​​​​​​
Baca juga: Uni Eropa: China musuh sistemik, catatan HAM jadi isu utama

Baca juga: China-Uni Eropa saling balas sanksi terkait isu Xinjiang
​​​​​​​

 

Presiden tekankan penghormatan atas hukum Internasional di Laut China Selatan

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar