IMF: Afrika sangat butuh vaksin untuk hentikan gelombang COVID

IMF: Afrika sangat butuh vaksin untuk hentikan gelombang COVID

Pendukung Pejuang Kebebasan Ekonomi (Economic Freedom Fighters) menghadiri unjuk rasa menuntut disediakannya vaksin penyakit virus corona (COVID-19), di Pretoria, Afrika Selatan, Jumat (25/6/2021). ANTARA/REUTERS/Siphiwe Sibeko/hp/cfo.

Singkatnya, tanpa bantuan, kawasan ini berisiko tertinggal lebih jauh,
Washington (ANTARA) - Infeksi COVID-19 di Afrika kemungkinan akan melebihi puncak sebelumnya dalam beberapa hari, menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mempercepat pasokan vaksin dan pembiayaan ke kawasan itu, ujar Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Senin (28/6).

Georgieva mengatakan dalam sebuah blog dengan direktur Departemen Afrika IMF Abebe Selassie bahwa Afrika sub-Sahara, yang sudah memiliki tingkat vaksinasi terendah di dunia pada kurang dari 1 persen dari populasi, sekali lagi berisiko memiliki sistem perawatan kesehatan yang kewalahan tanpa tindakan segera.

“Tanpa bantuan internasional yang signifikan, dimuka, dan tanpa upaya vaksinasi di seluruh wilayah yang efektif, masa depan Afrika sub-Sahara dalam waktu dekat akan menjadi salah satu gelombang infeksi yang berulang, yang akan menimbulkan korban jiwa yang terus meningkat. mata pencaharian wilayah yang paling rentan, sementara juga melumpuhkan investasi, produktivitas, dan pertumbuhan," tulis Georgieva dan Selassie.

Baca juga: WHO berharap Afrika menjelang akhir 2021 bisa memproduksi vaksin
Baca juga: Dorong pasokan untuk Afrika, Senegal berencana produksi vaksin COVID


"Singkatnya, tanpa bantuan, kawasan ini berisiko tertinggal lebih jauh," kata mereka.

Georgieva dan Selassie menambahkan semakin lama pandemi melanda Afrika, varian virus corona baru yang lebih berbahaya akan muncul untuk mengancam seluruh dunia.

Para pejabat IMF mendesak negara-negara kaya untuk lebih cepat berbagi stok vaksin mereka dengan Afrika melalui inisiatif COVAX, dengan mengatakan bahwa tujuannya adalah mengirimkan seperempat miliar dosis ke wilayah tersebut pada bulan September.

Produsen vaksin harus mengalihkan pasokan ke Afrika, sementara Tim Tugas Akuisisi Vaksin Afrika Uni Afrika harus dibiayai sekitar $2 miliar atau Rp29 triliun, yang akan memungkinkan opsi bagi grup untuk melaksanakan kontrak opsional untuk 180 juta dosis vaksin Johnson dan Johnson, kata Georgieva dan Selassie.

Mereka juga menyerukan penghapusan pembatasan ekspor lintas batas pada bahan mentah dan vaksin jadi untuk membantu memastikan bahwa Afrika Selatan dan India dapat mencapai kapasitas produksi penuh.

Sumber : Reuters

Baca juga: Bank Dunia, Uni Afrika bekerja sama perluas akses ke vaksin COVID-19
Baca juga: Tanzania minta bergabung dengan COVAX untuk pengadaan vaksin

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sekjen PBB sebut kudeta militer tidak dapat diterima di abad ke-21

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar