Jeddah (ANTARA News) - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengevaluasi pelaksanaan transportasi jemaah calon haji (calhaj) Indonesia dari pemondokan ke Masjidil Haram dan pondokan calhaj di Mekah.

Hadir dalam pertemuan di Kantor Teknis Urusan Haji (TUH) Jeddah, Kamis, antara lain Ketua PPIH Arab Saudi sekaligus Konsul Haji Indonesia DR. Syairozi Dimjathi, Wakil Ketua I PPIH Arab Saudi Zaenal Abidin Supi, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) PPIH Mekah Subchan

Cholid, Kadaker PPIH Madinah Cepi Supriyatna dan Kadaker PPIH Mekah Subakin AM.

Wakadaker PPIH Mekah Bidang Transportasi Mahdi Guna, antara lain menyinggung ulah sebagian pengemudi bus-bus yang digunakan oleh calon haji Indonesia dari pemondokan mereka yang tersebar di 11 sektor di Mekah ke Masjidil Haram pulang-pergi.

PPIH menyewa 315 bus dari muasassah (pengelola layanan haji di Arab Saudi) bagi penyediaan angkutan "shuttle" untuk calhaj dari pemondokan ke Masjidil Haram pp di 32 titik (halte) pada jalur pemondokan calhaj dan di empat pintu masuk di Masjidil Haram


Pintu Ajiad, Bab Ali, Jafariah dan Misfalah.

Menurut dia, pengemudi yang sebagian besar berasal dari Mesir dan Suriah itu sering mangkir dari tugas tanpa alasan untuk melayani lima "rit" angkutan dari pemondokan calhaj ke Masjidil Haram.

Akibatnya, sejumlah jemaah calhaj mengeluh karena mereka harus berlama-lama menanti kedatangan bus, baik saat hendak menuju Masjidil Haram maupun pulang ke pemondokan.

Calhaj yang sudah berada di Mekah memanfaatkan sebagian besar waktu di Masjidil Haram, baik untuk shalat lima waktu maupun menunaikan umrah yakni sa`i (berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah), thawaf (mengitari Ka`bah tujuh kali) diakhiri dengan cukur rambut yang menandai usainya prosesi umrah (Tahallul).

Mahdi mengeluh, para supir itu walaupun sudah memberikan nomor telepon genggamnya, masih sering sulit dihubungi, padahal bus yang dikemudikannya sudah dinanti-nantikan oleh jemaah, baik yang hendak berangkat ke Masjidil Haram maupun yang akan kembali ke pemondokan.

Memang di setiap halte, disediakan petugas tim haji Indonesia, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk memecahkan keluhan jemaah yang kesal menunggu kedatangan bus.

"Petugas kami sering diprotes jemaah yang sudah berjam-jam menunggu bus," ujarnya seraya menambahkan, para sopir yang membandel itu baru patuh jika ada petugas dari Muasassah yang menegur mereka.

Bus-bus sewaan buatan China itu, lanjut Mahdi, juga sering `ngadat` mesinnya dan tidak kuat di jalan tanjakan, dan hal ini sering dijadikan alasan oleh para pengemudinya untuk menolak jemaah naik jika seluruh bangku sudah terisi walaupun mereka rela berdiri asal terangkut bus.

Mendengar masalah ini, Wakadaker Mekah Zaenal Abidin mengajak para petugas yang bertanggung jawab atas masalah transportasi calhaj untuk mencarikan jalan keluarnya mengingat jika tidak, masalah ini menjadi semakin rumit, karena akan lebih banyak lagi calhaj yang harus dilayani di hari-hari mendatang.

Sekitar 210.000 calhaj Indonesia terdiri dari 191.000 haji reguler dan 19.000 Haji Khusus (dulu ONH Plus) akan berkumpul di Mekah pada musim haji kali ini, bergabung dengan sekitar dua juta ummat Islam sedunia untuk menunaikan rukun Islam kelima di tanah suci.

Sebagian calhaj Indonesia yang sebelumnya berada di Madinah untuk melakukan Arbain (shalat 40 waktu di Mesjid Nabawi) juga mulai begeser ke Mekah untuk melanjutkan prosesi haji berikutnya.

Mengenai pemondokan, isu mengemuka yang dibahas dalam pertemuan itu ialah penekanan terhadap pengawasan oleh petugas mengenai ketersediaan air bersih dan air minum, kebersihan ruangan dan lingkungan pemondokan serta MCK agar tidak diprotes oleh para calon haji.

Mengenai pengembalian sebagian uang pemondokan bagi sebagian calhaj yang mendapatkan lokasi pemondokan di Ring 2 (berjarak terjauh tujuh Km dari Masjidil Haram), Wakadaker PPIH Mekah Bidang Perumahan Syahbudin Latif mengharapkan agar petugas menyosialisasikan masalah ini khususnya pada mereka yang tidak mendapatkannya.

"Jangan sampai masalah ini menjadi fitnah, terutama saat kunjungan Tim Pengawas dari BPK dan Tim DPR nanti, " ujarnya.

Pengembalian sebagian uang sewa pemondokan hanya untuk calhaj penghuni pemondokan di Ring 2 yang sewanya lebih rendah dari pagu yang semula ditetapkan. Namun tidak semua jemaah di Ring 2 akan menerima pengembalian uang sewa, misalnya di kawasan Bakhutmah dan Mahbasjin yang sewanya sudah melebihi pagu.

Dalam musim haji 1430H, untuk jemaah calhaj reguler Indonesia disediakan 407 rumah pemondokan, 115 rumah di antaranya berada di Ring 1 (berjarak maksimal dua KM dari Masjidil Haram) dengan kapasitas 52.500 calhaj (26,4 persen) dan 292 rumah di Ring 2 (143.600 jemaah) atau 73,6 persen.(*)

Editor: Imansyah
Copyright © ANTARA 2009