Pasien COVID-19 tetap bisa lakukan diet penurunan berat badan

Pasien COVID-19 tetap bisa lakukan diet penurunan berat badan

Ilustrasi program penurunan berat badan (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis gizi klinik, Maria Ingrid Budiman, sp.GK mengatakan bahwa pasien COVID-19 tetap bisa menjalani program penurunan berat badan asal memperhatikan gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Dalam menurunkan berat badan, yang paling penting untuk diperhatikan adalah jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, nilai gizi seperti karbohidrat, protein dan lemak juga harus ada dalam menu makanan.

"Kalau orang diet kan biasanya mengurangi asupannya banyak. Kalau dia lagi isolasi mandiri, kuranginya dikit-dikit dan yang paling penting kandungan gizi harus terpenuhi kebutuhannya," kata Dokter lulusan Universitas Hasanuddin Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Gizi Klinik ini dalam bincang-bincang di Instagram Live pada Jumat.

Dalam mengurangi berat badan, yang harus dipangkas adalah makanan berlemak dan manis. Makan daging pun diperbolehkan, asal membuang bagian lemaknya.

Baca juga: Pola diet mediterania, tubuh langsing dan cegah demensia

"Sebenarnya yang sering salah itu cara masak lauknya. Kalau daging doang enggak apa-apa, yang penting dibuang lemak-lemaknya jadi daging aja. Kalau makan telur, kuningnya dibuang, kalau makan ikan, jangan digoreng," ujar Ingrid.

Ingrid menyarankan untuk mengubah cara memasak. Jika biasanya digoreng, kali ini cobalah untuk merebus, mengukus atau memanggang.

Nasi juga sebaiknya tidak dihindari, namun untuk porsi idealnya adalah satu kepal tangan.

"Jangan salah, tumis itu juga banyak minyaknya, terus bagusnya ya masak sendiri agar tahu takarannya. Jumlah dan jenis makanan yang masuk harus diperhatikan, kalau enggak sayang kalau malah sakit," kata Ingrid.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, D, C, E dan seng atau zinc bisa didapatkan dari makanan sehari-hari. Vitamin A, bisa ditemukan pada produk hewan atau tumbuhan seperti telur, hati, ubi jalar, wortel, ikan tuna, labu kuning, bayam, melon dan grape fruit.

"Kalau vitamin C jangan selalu jeruk. Jeruk itu urutan kelima. Yang banyak vitamin C itu, pertama jambu, kedua paprika, kiwi, kemudian stroberi baru jeruk. Bisa juga dari pepaya dan brokoli," ujar Ingrid.

Vitamin D bisa didapat dari berjemu, ataupun makanan seperti ikan salmon, susu, sereal, yogurt dan tabu atau tempe.

"Kalau vitamin E, biasanya orang nyari dari suplemen padahal banyak dari kuaci tapi belinya jangan yang asin, yang original, terus almond, avokad, kiwi, olive oil dan udang," ujar Ingrid.

Sedangkan untuk seng bisa diperoleh dari daging sapi, daging ayam, biji rami, oatmeal serta jamur siitake.

"Kalau kurang baru minum susu. Makan tahu tempe juga jangan digoreng, tempe bacem juga, itu banyak manisnya. Intinya kalori dikurangin, gizinya jangan," kata dr. Ingrid.

Baca juga: Risiko diabetes lebih tinggi pada anak yang kegemukan

Baca juga: Tips jaga kebersihan makanan dari luar dan pola makan sehat

Baca juga: Terobsesi pada makanan sehat bisa picu malnutrisi

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kiat makan sehat selama berpuasa di pandemi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar