Pengamat: Latihan gabungan Garuda Shield bentuk diplomasi pertahanan

Pengamat: Latihan gabungan Garuda Shield bentuk diplomasi pertahanan

Petugas Satgas COVID-19 Balikpapan mengambil sampel cairan untuk tes PCR para prajurit AS yang akan mengikut latihan bersama Garuda Shield di Puslatpur Amborawang, Samboja, Kutai Kartanegara Agustus ini. (ANTARA/HO-Pendam VI Mulawarman)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan latihan gabungan antara TNI AD-US Army bertajuk Garuda Shield merupakan salah satu bentuk konkret dari diplomasi pertahanan.

"Hal tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kepentingan nasional," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Kasad harap latgab Garuda "Shield" pererat persahabatan TNI AD-US Army

Sebelum berbicara manfaat atau keuntungan yang didapat Indonesia dari latihan gabungan Garuda Shield, perlu melihat ke belakang terkait perjalanan diplomasi pertahanan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, kata dia.

Diplomasi pertahanan merupakan salah satu sarana mewujudkan kepentingan nasional di bidang pertahanan dan keamanan. Peranannya strategis dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Terutama, lanjut dia, agar eskalasi tidak meningkat ke arah konflik serta dapat saling memperkuat confidence building measures (CBMs), keamanan hingga stabilitas kawasan.

Menurut Khairul, latihan gabungan adalah bentuk pertahanan dengan tujuan membangun kepercayaan, mengurangi rasa takut, dan kesalahpahaman kedua belah pihak. Selain itu, mengarahkan pada upaya meningkatkan kemampuan sektor pertahanan.

"Artinya, Indonesia dalam hal ini tentu saja berharap latihan gabungan akan memperkuat kesepahaman, memperkaya pengalaman, serta meningkatkan kemampuan dan kecakapan TNI terutama para personel yang terlibat," kata dia.

Baca juga: Latihan Bersama Garuda Shield, 330 Tentara AS tiba di Palembang

Ia meyakini latihan gabungan tersebut tidak akan menimbulkan persepsi tentang kedekatan Indonesia dan Amerika Serikat di tengah persaingan dengan China di Laut China Selatan.

Justru, kerja sama tersebut kian menegaskan sikap Indonesia sebagai penganut politik bebas aktif dan menolak berpihak ke salah satu pihak.

"Saya kira tidak akan berpengaruh signifikan terhadap hubungan Indonesia-China di luar isu Laut China Selatan," ujarnya.

Sejauh ini, lanjut dia, sejak hubungan kedua negara dinormalisasi, hubungan tersebut tidak pernah benar-benar memburuk bahkan cenderung menguat.

Khairul juga ragu hubungan Indonesia dan China bakal memburuk menyusul adanya latihan gabungan Garuda Shield. Apalagi, dalam berbagai kesempatan, Indonesia jelas membuka ruang kerja sama yang intens dengan "Negeri Tirai Bambu".

TNI AD dan US Army dijadwalkan melakukan latihan gabungan Garuda Shield pada Agustus 2021. Program tersebut disebut-sebut yang terbesar dibandingkan kegiatan serupa sebelumnya karena melibatkan 2.246 personel TNI AD dan 2.282 tentara AS.

Garuda Shiled pertama kali dilakukan di Bandung Jawa Barat pada 2009. Tahun ini kegiatan dilaksanakan di tiga daerah latihan yakni Pusat Latihan Tempur Baturaja, Makalisung dan Amborawang dengan materi latihan lapangan, menembak, medis dan penerbangan.

Baca juga: Kasad bicarakan perkembangan Garuda Shield bersama Atase Pertahanan AS

Baca juga: Kasad minta ada interaksi langsung latihan bersama SFAB militer AS

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar