London (ANTARA News) - KBRI Madrid bekerja sama dengan Batik House Indonesia (BHI) menggelar kegiatan promosi Indonesia berupa pelatihan membatik dengan pelatih Venny Akhwani Alamsyah, yang berpengalaman di lebih dari 60 negara mengajarkan teknik membatik Indonesia.

"Kegiatan `workshop` membatik bertujuan melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui seni membatik tradisional Indonesia di kalangan masyarakat Spanyol," ujar Sekretaris Tiga KBRI Madrid, Krisnawati Desi Purnawestri kepada koresponden Antara London, Senin.

Dikatakannya, pelatihan atau "workshop" membatik juga ditujukan bagi masyarakat Indonesia di Spanyol untuk meningkatkan kecintaan WNI terhadap budaya bangsa Indonesia, dan pemahaman bahwa batik sebagai budaya memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, di samping filosofi yang dikandungnya.

Menurut Desi, penyelenggaraan pelatihan ini dilatarbelakangi pengamatan KBRI Madrid adanya peluang bagi pengenalan budaya Indonesia di kalangan masyarakat Spanyol mengingat tren saat ini yang mengarah ke Asia.

KBRI Madrid mengadakan serangkaian "workshop" yang diadakan baik di KBRI maupun bekerja sama dengan sekolah-sekolah mode di Madrid.

Pelatihan membatik diadakan enam kelas membatik selama tiga hari, yang dilangsungkan di tiga tempat di KBRI Madrid, di Insituto Europeo de Dise`o Madrid (IED) dan Escuela de Arte 2` Madrid.

Di KBRI diadakan sebanyak tiga kelas membatik yang ditujukan bagi masyarakat umum Spanyol dan Indonesia.

"Antusiasme masyarakat umum Spanyol sangat tinggi dalam mengikuti workshop ini, meskipun sebagian besar peserta pelatihan yang diadakan di KBRI sangat awam terhadap seni dan teknik membatik," ujarnya.

Workshop yang diresmikan Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Madrid yang menyebutkan bahwa batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sangat khas, baik dari teknik pembuatan maupun motifnya.

Batik juga telah diakui sebagai kekayaan dunia, dengan dikukuhkannya batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO Oktober tahun lalu. Untuk itu Indonesia ingin membagikan kekayaan ini sebagai pengetahuan bagi masyarakat seluruh dunia.

Workshop yang digelar KBRI Madrid bekerja sama dengan Insituto Europeo de Dise?o Madrid yang merupakan sekolah desain ternama di Eropa, workshop membatik diikuti 35 mahasiswa tingkat tiga dan post-graduate.

Sebagai mahasiswa seni dan desain, antusiasme para mahasiswa dalam mengikuti workshop ini sangat tinggi, mengingat pemahaman yang telah dimiliki para peserta mengenai teknik pencetakan dan desain di atas kain.

Direktur IED Marisa Santa Maria menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama yang baik dalam mengadakan program tersebut, untuk memberikan kesempatan yang sangat langka bagi para mahasiswa belajar hal yang baru, yang akan membuka pengetahuan mereka tentang Indonesia.

Sementara itu di Escuela de Arte 2` Madrid, sekolah seni khusus jurusan desain mode dan tekstil, workshop membatik diikuti sekitar 70 mahasiswa termasuk Direktur Sekolah, Transito beserta para pengajar dan mahasiswa sekolah yang menilai pelatihan itu sangat tepat.

"Workshop" diawali dengan demo membatik diharapkan peserta dapat menyaksikan secara langsung cara pengerjaan batik sebelum mempraktikkannya.

Ibu Venny, yang mengajarkan membatik menyampaikan presentasi singkatnya mengenai sejarah perkembangan batik di Indonesia, kekhasan batik Indonesia sehingga ditetapkan menjadi salah satu Intangible World Heritage oleh UNESCO, penjelasan mengenai jenis-jenis batik Indonesia, serta teknik membuat batik tulis di kain maupun di atas kayu.

Usai pemaparan, para peserta melakukan praktek membatik di atas kain dan kayu hingga proses akhir, dan ditutup dengan foto bersama dengan memperlihatkan hasil karya mereka.

Untuk memperkuat nuansa Indonesia, dalam setiap sesi kegiatan selalu diputarkan musik tradisional Indonesia yang didukung pula oleh dekorasi bernuansa batik.

Dalam pelaksanaan workshop di KBRI juga disediakan makanan khas Indonesia seperti kue talam ubi, lemper, risoles, dan lainnya yang mendapat pujian dan sambutan dari para peserta workshop yang merasakan nuansa Indonesia secara utuh dalam kegiatan singkat tersebut.

Pada umumnya para peserta menginginkan agar kegiatan serupa juga diadakan sehingga pengetahuan mereka mengenai Indonesia dapat terus bertambah.

Kegiatan ini mendapat perhatian yang cukup besar dari media massa Spanyol dan mendapat liputan stasiun televisi TV Espa`a (TVE) yang merupakan stasiun televisi dengan jaringan terbesar di Spanyol, yang hadir dari awal hingga akhir pelatihan.

Rencananya liputan kegiatan para peserta dan wawancara dengan pejabat fungsi Pensosbud KBRI Madrid, pelatih batik, dan juga para peserta workshop tersebut akan ditayangkan dalam program televisi bertajuk "Babel" yang merupakan program budaya di TVE, pada minggu ke-2 November mendatang. (ZG/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010