Airlangga: Perubahan iklim dan ketimpangan masih jadi tantangan 2045

Airlangga: Perubahan iklim dan ketimpangan masih jadi tantangan 2045

Tangkapan Layar Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah) membacakan pidato bertajuk "Demokrasi, Kebangsaan, dan Kesejahteraan" pada rangkaian peringatan HUT Ke-50 CSIS Indonesia sebagaimana disiarkan di kanal resmi CSIS Indonesia di Jakarta, Selasa (10/8/2021). ANTARA/Genta Tenri Mawangi

Jika pada usia lanjut masyarakat tetap sehat dan produktif, pintu kesempatan terbuka bagi mereka untuk tetap produktif.
Jakarta (ANTARA) - Perubahan iklim dan ketimpangan masih akan jadi tantangan yang dihadapi oleh Indonesia pada 2045, kata Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa.

Oleh karena itu, Airlangga Hartarto mengusulkan ekonomi dan program-program pembangunan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan inklusif demi mengatasi tantangan tersebut.

Airlangga saat menyampaikan pidato kebangsaan bertajuk "Demokrasi, Kebangsaan, dan Kesejahteraan" menempatkan dampak perubahan iklim sebagai isu pertama yang masih akan dihadapi oleh Indonesia pada tahun 2045.

Di samping perubahan iklim, dia juga menyebut antara lain menipisnya sumber daya alam, perkembangan demografi yang kemungkinan akan didominasi oleh masyarakat berusia tua, urbanisasi, dan ketimpangan ekonomi.

Proyeksi pada tahun 2045 jadi fokus pidato Airlangga karena Partai Golkar membuat Visi Negara Kesejahteraan 2045. Partai Golkar, sebagaimana dikutip dari pidato Airlangga, juga optimistis Indonesia akan jadi negara maju pada tahun 2045.

Airlangga saat berbicara pada salah satu rangkaian acara jelang HUT Ke-50 CSIS menyebutkan tantangan perubahan iklim merupakan isu global yang harus dihadapi.

Pemanasan global pada tahun 2017, kata dia, sudah mencapai 1 persen level di atas praindustrialisasi. Diproyeksikan oleh para ahli dengan kecepatan polusi dan emisi gas seperti sekarang maka bisa mencapai kenaikan hingga 2,5 persen pada tahun 2050 dan dampak kenaikannya akan sangat berat dan menjadi tidak terkendali lagi.

Baca juga: Guru Besar FEB UI: Bonus demografi bisa intervensi pembangunan manusia 

Terkait dengan masalah populasi dan urbanisasi, Airlangga berpendapat bahwa Indonesia ke depan akan menghadapi masalah populasi yang menua karena turunnya tingkat kelahiran.

"Namun, jika pada usia lanjut masyarakat tetap sehat dan produktif, pintu kesempatan terbuka bagi masyarakat usia lanjut pun bisa tetap produktif," ujar Airlangga.

Terkait dengan urbanisasi, dia menyampaikan tren perpindahan dari desa ke kota itu akan tetap berlangsung sehingga salah satu tantangannya menyiapkan perumahan yang terjangkau untuk masyarakat.

Menyinggung soal isu ketimpangan, dia berpendapat salah satu penyebabnya karena masih ada kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi.

"Potensi ketimpangan kesehatan dan pendidikan yang disebabkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang cepat, ikut berperan menambah ketimpangan antarkelompok masyarakat," katanya menerangkan.

Setidaknya ada tiga langkah utama yang diusulkan oleh Airlangga untuk menghadapi ragam masalah dan tantangan pada tahun 2045, yaitu pembangunan manusia dan penguasaan teknologi, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, terakhir penguatan ketahanan sosial dan nilai-nilai kebangsaan.

Baca juga: HANI 2021 momen antisipasi ancaman hilangnya kualitas bonus demografi

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar