Jakarta (ANTARA News) - Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia mengumumkan bahwa sampai sekarang masih menghentikan layanan penerbangan ke Yogyakarta menyusul krisis Merapi akhir-akhir ini.

"Karena Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta masih ditutup, maka penghentian layanan penerbangan dari dan ke Yogyakarta untuk sementara sampai besok (Selasa, 9/11)," kata VP Corporate Communications Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan, Garuda selama ini melayani penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta sebanyak delapan kali per hari dan dari Denpasar dua kali setiap hari.

"Karena itu, kepada para calon penumpang yang menunda penerbangannya dapat melakukan pembukuan kembali penerbangannya dan bagi mereka yang akan me-refund tiket maka tidak ada biaya-biaya tambahan, seperti dalam situasi normal," katanya.

Sementara itu, terkait kondisi trafik antara Yogyakarta dan Solo yang juga masih tidak menentu, maka kegiatan penerbangan dari Yogyakarta tidak dapat dialihkan melalui Solo, seperti yang dapat dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya.

Pujobroto tidak bersedia merinci dampak kerugian atau potensi meraih pendapatan yang hilang akibat peristiwa itu sejauh ini.

Sementara itu, terkait dengan kondisi penerbangan dari dan ke luar negeri dari Bandara Soekarno-Hatta, Pujobroto menegaskan, sejauh tidak ada pemberitahuan (notice to airman/notam) kepada maskapai penerbangan yang menyatakan bandara Soekarno-Hatta terkena dampak abu vulkanik Merapi atau dinyatakan tertutup, maka Garuda akan tetap melayani seperti biasa.

"Artinya penerbangan ke kota-kota di dalam maupun luar negeri, tetap seperti biasa," katanya.

Sementara itu dihubungi terpisah, Corporate Communication Manager Indonesia AirAsia, Audrey Progastama, mengakui, sesuai perkembangan terakhir setelah meletusnya Gunung Merapi, sejumlah penerbangan dari dan menuju kota Yogyakarta, hingga saat ini masih dihentikan.

Sedangkan dari dan menuju Bandung, mulai Senin ini (8/11) sudah bisa dilayani.

(E008/A023/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010