Guangzhou (ANTARA News) - Indonesia mempertahankan tradisi emas Asian Games dari cabang bulu tangkis setelah ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan mengalahkan ganda kuat Malaysia, Kien Keat Koo/Boon Heong Tan, pada final 16-21,26-25, 21-19 di Tianhe Gymnasium, Guangzhou, Sabtu.

Pasangan terkuat Indonesia itu menjadi `penyelamat` tradisi emas bulu tangkis sekaligus mempertahankan reputasi bulu tangkis Indonesia di pentas Asia.

Lagu Indonesia Raya dinyanyikan di Tianhe Gymnasium mengiringi pengibaran Sang Merah Putih. Suasana haru juga melanda kubu Indonesia, selain ofisial dan pelatih, hadir pula menyaksikan perjuangan ganda putra Indonesia adalah mantan Ketua Umum KONI Agum Gumelar, Ketua Umum KONI Rita Subowo, mantan ketua PB PBSI Sutiyoso.

Selain emas dari Kido/Hendra, Indonesia juga meraih medali perunggu melalui Alven Yulianto/ M Ahsan yang menembus semifinal.

"Saya senang hari ini bisa mengatasi pertandingan yang sulit dan penuh tekanan, dan senang karena tidak jadi kalah pada saat kami dalam posisi kritis," kata Markis Kido dalam konferensi pers seusai menerima medali emas.

Sukses emas bulutangkis membuat Indonesia yang sebelumnya berada di peringkat 12 klasemen sementara perolehan medali emas Asian Games XVI/2010, naik ke peringkat ke-10 dengan total empat emas, enam perak dan 11 perunggu.

Indonesia menggeser Singapura yang sebelumnya di peringkat ke-10 dengan empat emas, 6 perak dan 6 perunggu. Serta Malaysia yang menempati peringkat ke-12 dengan tiga emas, 6 perak dan 7 perunggu.


Berlangsung ketat

Perjuangan ganda Indonesia di babak final berlangsung cukup ketat dan menegangkan. Kendati kalah telak 16-21 pada game pertama, Kido/Hendra bangkit pada game kedua dengan memaksa pasangan terkuat Malaysia itu bermain rubber-game setelah menyamakan kedudukan 20-20.

Kejar-kejaran angka berlangsung dengan posisi akhir 24-24, sebelum akhirnya menuntaskan game kedua dengan skor 26-24. Markis Kido sempat membanting raketnya saat membuat kesalahan pada kedudukan 22-22.

Pada game penentuan, pemegang emas Olimpiade 2008 itu memimpin hingga 9-5, kemudian terjadi kejar-kejaran angka hingga 16-16, kemudian 19-19, yang akhirnya pasangan andalan Indonesia itu menutup game ketiga itu dengan 21-19.

Bagi pasagan Kido/Hendra, sukses di Asian Games 2010 ini sekaligus menambah deretan gelar juara yang diraihnya yakni Juara Dunia, emas Olimpiade Beijing 2008 serta kejuaraan internasional lainnya.

Ketika ditanya kunci sukses mengatasi tekanan berat pada saat tertinggal pada point kritis, Hendra Setiawan mengaku punya spirit berlebih pada saat kritis. Bahkan ia mampu bertanding lebih fokus dan konsentrasi bila dibandingkan dua lawannya dari Korea.

"Selama poin belum berakhir, kami berupaya mengejar terus dan tetap konsentrasi. Kemenangan set kedua membuat lawan hilang konsentrasi sehingga bisa kami manfaatkan untuk memimpin set ketiga," kata Hendra Setiawan.

Namun ia mengakui bahwa saat kedudukan 19-19, ia sempat tegang, namun karena permainanya kembali di atas angin setelah mampu memimpin dan akhirnya mengunci dengan skor akhir 21-19.

Sementara itu Manajer Tim Bulutangkis Indonesia, Yacob Rusdianto mengaku kemenangan ganda Kido/Hendra bukan sebuah kejutan karena memang menjadi salah satu pasangan yang mengemban target medali emas.

"Pasangan itu memang kita targetkan medali emas, dan akhirnya mereka berhasil memberikan yang terbaik," kata Yacob.

Sedangkan tunggal putra Taufik Hidayat yang juga awalnya diharapkan mendulang emas, kandas di perempat final. Demikian halnya ganda putri dan ganda campuran.

Total tim bulu tangkis Indonesia mendulang satu emas dan tiga perunggu. Dua perunggu lainnya diraih dari nomor beregu putra dan putri.

Smentara itu pada tunggal putri, medali emas dan perak diraih China setelah terjadi final sesama pemain China. Emas tunggal putri diraih Wang Shixian yang mengalahkan Wang Xin dengan skor 21-18, 21-15. Medali perunggu diraih oleh Hirose Eriko (Jepang) dan Yip Pui Yin (Hongkong).

Sementara itu, final nomor tunggal putra akan mempertemukan tunggal terkuat China Lin Dan dengan pemain Malaysia Lee Chong Wei. (*)
(T.S033/I015/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010