Seoul (ANTARA News/AFP) - Dua mayat warga sipil ditemukan di sebuah pulau Korea Selatan, Rabu, sehari setelah serangan artileri Korea Utara, kata penjaga pantai, sehingga jumlah korban tewas akibat pemboman itu menjadi empat.

Seorang juru bicara mengatakan kepada AFP, kedua mayat itu ditemukan ketika penjaga pantai memeriksa puing-puing rumah yang hancur dalam serangan tersebut. Kedua korban sipil itu diperkirakan berusia 60-an tahun.

Kantor berita Yonhap mengatakan, kedua korban yang sebelumnya dilaporkan hilang itu termasuk diantara 12 pekerja bangunan yang sedang membangun barak untuk marinir yang ditempatkan di pulau tersebut.

Yonhap menyatakan, satu mayat ditemukan dalam keadaan puntung dari pinggang ke bawah, dan mayat yang satu lagi terkena serpihan-serpihan amunisi.

Militer sebelumnya mengatakan, tembakan itu menewaskan dua marinir yang ditempatkan di pulau Yeonpyeong dan mencederai 15 marinir serta tiga warga sipil.

Sementara itu, China mengungkapkan penyesalan atas jatuhnya korban dalam serangan bom Korea Utara di pulau Korea Selatan dan mendesak kedua pihak memulai perundingan untuk menghindari insiden lebih lanjut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei mengatakan, Beijing "prihatin" atas keadaan di Semenanjung Korea.

"China sungguh memperhatikan insiden itu. Kami menyesalkan jatuhnya korban dan kerugian harta-benda, dan prihatin atas keadaan tersebut," kata Hong dalam sebuah pernyataan yang disiarkan kantor berita Xinhua.

Meski negara-negara besar dunia mengecam Pyongyang atas insiden mematikan itu, Beijing lagi-lagi bungkam, seperti juga ketika Korea Utara disalahkan atas penenggalaman sebuah kapal perang Korea Selatan pada Maret.

Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat tajam sejak Korea Selatan dan AS menuduh Korea Utara mentorpedo kapal perang Seoul itu, yang menewaskan 46 orang.

Korea Utara membantah terlibat dalam tenggelamnya kapal itu dan mengancam melakukan pembalasan atas apa yang disebutnya latihan perang provokatif Korea Selatan yang dilakukan sebagai tanggapan atas insiden kapal tersebut.

Latihan itu, yang melibatkan 4.500 prajurit, 29 kapal dan 50 jet tempur, merupakan salah satu dari serangkaian latihan terencana dalam beberapa bulan ini, beberapa diantaranya dilakukan dengan AS, sekutu Seoul, dalam unjuk kekuatan terhadap Korea Utara.

Kapal perang Korea Selatan Cheonan tenggelam pada 26 Maret di dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan dengan wilayah utara pada dalam kondisi misterius setelah ledakan yang dilaporkan.

Dewan Keamanan PBB mengecam penenggelaman kapal Korea Selatan itu namun tidak secara langsung menyalahkan Korea Utara, meski AS dan Korea Selatan meminta kecaman PBB terhadap negara komunis itu.

Penyelidik internasional pada 20 Mei mengumumkan hasil temuan mereka yang menunjukkan bahwa sebuah kapal selam Korea Utara menembakkan torpedo berat untuk menenggelamkan kapal perang Korea Selatan itu, dalam apa yang disebut-sebut sebagai tindakan agresi paling serius yang dilakukan Pyongyang sejak perang Korea 60 tahun lalu.

Korea Selatan mengumumkan serangkaian pembalasan yang mencakup pemangkasan perdagangan dengan negara komunis tetangganya itu.

Korea Utara membantah terlibat dalam insiden tersebut dan membalas tindakan Korea Selatan itu dengan ancaman-ancaman perang.

Seorang diplomat Korea Utara mengatakan pada 3 Juni, ketegangan di semenanjung Korea setelah tenggelamnya kapal perang Korea Selatan begitu tinggi sehingga "perang bisa meletus setiap saat".

Dalam pernyataan pada Konferensi Internasional mengenai Perlucutan Senjata, wakil utusan tetap Korea Utara untuk PBB di Jenewa, Ri Jang-Gon, menyalahkan "situasi buruk" itu pada Korea Selatan dan AS.

"Situasi semenanjung Korea saat ini begitu buruk sehingga perang bisa meletus setiap saat," katanya.

Kedua negara Korea itu tidak pernah mencapai sebuah perjanjian pedamaian sejak perang 1950-1953 dan hanya bergantung pada gencatan senjata era Perang Dingin. (M014/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010