Kepala Lembaga Eijkman: Jangan pilih-pilih vaksin COVID-19

Kepala Lembaga Eijkman: Jangan pilih-pilih vaksin COVID-19

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. Amin Soebandrio. ANTARA/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional/pri.

Apapun vaksin yang tersedia kalau memang sudah ada di depan mata, maka itu sebaiknya segera diterima karena bagaimana pun yang tidak divaksinasi itu akan memiliki risiko yang cukup besar dibanding orang yang divaksinasi
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. dr. Amin Soebandrio W. Kusumo, PhD, SpMK(K) mengimbau masyarakat untuk tidak pilih-pilih vaksin yang digunakan, karena semua vaksin COVID-19 yang disetujui untuk dipakai dalam negeri telah memenuhi seluruh persyaratan dan regulasi yang ditetapkan.

"Apapun vaksin yang tersedia kalau memang sudah ada di depan mata, maka itu sebaiknya segera diterima karena bagaimana pun yang tidak divaksinasi itu akan memiliki risiko yang cukup besar dibanding orang yang divaksinasi," katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Jika tidak divaksinasi, kata dia, orang akan memiliki risiko terinfeksi COVID-19 jauh lebih tinggi dibanding yang sudah divaksinasi. Bahkan orang yang belum divaksinasi COVID-19 bisa lebih cepat jatuh pada kondisi berat hingga terancam nyawanya.

Apalagi, katanya, saat ini pemenuhan kebutuhan vaksin masih bergantung pada kedatangan dari luar negeri. Jika hanya menunggu vaksin tertentu datang, tidak akan tahu kapan vaksin tersedia sementara pandemi COVID-19 tidak menunggu untuk menyerang.

Ia menyatakan vaksin COVID-19 diberikan dengan tujuan membangun sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu.

Pemerintah Indonesia, katanya, sudah memastikan semua vaksin yang dipakai telah lolos uji keamanan dan efikasi untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

Vaksin yang digunakan saat ini, menurut dia,  juga sudah sesuai dengan syarat dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), salah satunya bahwa vaksin memiliki efikasi lebih dari 50 persen.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat menggunakan vaksin yang tersedia tanpa pilih-pilih merek vaksin atau tidak condong kepada penggunaan merek vaksin tertentu, demikian Amin Subandrio.


Baca juga: Eijkman: Vaksinasi dorong seseorang cepat sembuh dari infeksi COVID-19

Baca juga: BPOM: Vaksin Merah Putih Eijkman produksi massal semester 2 tahun 2022

Baca juga: Eijkman: Vaksin COVID-19 tidak mengandung chip

Baca juga: Eijkman: Mutasi virus jadi tantangan pengembangan Vaksin Merah Putih

 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pakar: Belum ada bukti varian Delta Plus lebih berbahaya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar